MERANTAU KARENA SK, PULANG KARENA CINTA

Ucok Simanjuntak | Jumat, 31-05-2019 | 12:06 WIB | 74 klik | Provinsi Sumatera Barat

Oleh: Tri Novera, Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi FISIP UNAND

PortalSumbar - Semboyan "Merantau Karena SK, Pulang Karena Cinta" sangat cocok disandang oleh para abdi negara yang sering berpindah-pindah ke seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), khususnya bagi para pegawai Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Berpengalaman sebagai pegawai DJP sejak tahun 2014, saya sendiri juga mengalami beberapa kali mutasi karena adanya Surat Keputusan (SK) dari Kantor Pusat DJP maupun dari Kantor Wilayah DJP. Awalnya, memang terasa berat, tetapi karena seluruh pegawai mengalami hal yang sama jadi saya anggap sudah biasa. Semua harus dilalui dengan ikhlas, mengingat kami sudah menandatangani surat pernyataan bahwa bersedia ditempatkan di seluruh wilayah NKRI.

Saya juga salah satu pegawai DJP yang kena dampak "merantau karena SK". Saya masih termasuk orang yang beruntung karena saya ditempatkan di daerah yang masih dekat dengan homebase (baca: tempat kelahiran). Setiap hari saya bolak-balik (PP) Padang-Solok yang berjarak lebih kurang 60 km.

Menurut sebagian orang yang tidak mengerti sistem mutasi di DJP pasti berpikir kenapa harus PP? Kenapa gak pindah aja ke Solok? Kenapa gak kos aja dan pulang sekali seminggu atau sebulan?

Awalnya saya juga merasa berat bolak-balik setiap hari dinas. Sudah pasti badan capek, berangkat shubuh, pulangnya udah magrib. Kadang-kadang karena kendala di jalan, saya bisa sampai di rumah jam 9 atau 10 malam. Pernah juga saya tiba di kantor jam 9 pagi karena harus melewati jalan memutar ke Padang Panjang, dikarenakan ada mobil CPO yang terbalik di Sitinjau Lauik. Tetapi karena melihat semangat teman-teman yang juga homebase Padang bolak-balik setiap hari, saya jadi bertanya kenapa saya gak bisa.

Tak terasa saya bisa menjalaninya selama 1 tahun 9 bulan dan tidak pernah semalam pun saya menginap di Solok. Alhamdulillah, saya diberi kekuatan melalui itu semua. Apalagi sejak Januari 2018 saya sedang hamil anak ketiga. Barulah pada Agustus 2018, saya ditugaskan untuk melanjutkan S2 di UNAND dengan beasiswa dari Kominfo (Kementerian Komunikasi dan Informatika).

Alasan utama saya bolak balik Padang-Solok yaitu karena anak saya yang pertama sudah menginjak kelas tiga di Sekolah Dasar. Tentunya agak ribet kalau harus mengurus surat pindah sekolah. Selain itu, karena saya ingin tetap berkumpul bersama keluarga. Di zaman serba canggih sekarang ini, apalagi sudah bisa video call, tentunya tidak sulit untuk berkomunikasi dengan suami dan anak di rumah. Akan tetapi saya merasakan ada yang kurang.

Setelah saya kuliah di Magister Ilmu Komunikasi UNAND, saya baru menemukan jawaban dari kekurangan yang saya rasakan. Alasan kenapa saya lebih memilih bolak-balik tiap hari dibanding seminggu atau sebulan sekali. Jawabannya karena komunikasi verbal dan non verbal itu tidak bisa dipisahkan. Dengan video call melalui handphone kita bisa bercakap-cakap (verbal), tetapi kita tidak bisa menyentuh, memeluk, ataupun mencium suami, anak, ataupun orang tua kita.

Menyentuh, memeluk, dan mencium merupakan beberapa jenis komunikasi non verbal yang mengandung sejuta makna. Untuk menciptakan sebuah keluarga yang harmonis tentunya perlu keseimbangan antara komunikasi verbal dan non verbal. Berkata-kata dengan diiringi sentuhan, pelukan, ataupun ciuman tentunya akan lebih memberikan makna kepada keluarga.

Berdasarkan hasil penelitian oleh Rene Spitz tahun 1945 di dalam buku Prof. Deddy Mulyana yang berjudul "Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar" menunjukkan bahwa kesehatan bayi-bayi yang jarang memperoleh belaian manusia akan mengalami kemerosotan dan menderita penyakit yang mengancam jiwa mereka.

Sementara itu, Eric Berne mengembangkan suatu teori hubungan sosial yang ia sebut Transactional Analysis (1961). Ia menyimpulkan bahwa sentuhan emosional dan indrawi itu penting bagi kelangsungan hidup manusia dengan ungkapan bahwa "If you are not stroked, your spinal cord will shrivel up" (Jika engkau tidak mendapatkan belaian, urat saraf tulang belakangmu akan layu)."

Dari hasil penelitian di atas terbukti bahwa sentuhan itu sangatlah penting dalam berkomunikasi dengan orang lain terutama sekali dengan keluarga. Perilaku komunikasi pertama yang dipelajari manusia berasal dari sentuhan orangtua sebagai respons atas upaya bayi untuk memenuhi kebutuhannya.

Belaian orang tua kepada anaknya dapat menciptakan suatu imun untuk mencegah anak terserang dari penyakit berbahaya. Selain itu, komunikasi juga berfungsi untuk menunjukkan ikatan dengan orang lain, membangun dan memelihara hubungan.

Demi menjaga hubungan yang baik dengan keluarga, pegawai DJP rela menghabiskan uang untuk beli tiket pesawat setiap akhir pekan bagi mereka yang jauh dari homebase. Selain berkorban uang, mereka juga berkorban nyawa, sehingga mengingatkan kita kembali pada peristiwa jatuhnya pesawat Lion Air beberapa bulan silam.

Sebanyak 12 orang pegawai DJP menjadi korban dalam pesawat naas tersebut. Mereka memanfaatkan long weekend untuk berkumpul dengan keluarga. Namun, jatuhnya pesawat itu tak membuat pegawai DJP takut untuk tetap "pulang karena cinta" kepada keluarga mereka.

Begitu pentingnya komunikasi yang baik (verbal dan non verbal) dalam keluarga, karena keluarga sangat berpengaruh dalam pembentukan konsep diri seseorang. Keluargalah yang membentuk pandangan kita mengenai siapa diri kita.(*)

Install aplikasi Portal Sumbar app di Google Play

Komentar