Akhiri Perbedaan Pilihan, Kalah Harus Legowo

Ucok Simanjuntak | Jumat, 03-05-2019 | 21:29 WIB | 89 klik | Nasional
Akhiri Perbedaan Pilihan, Kalah Harus Legowo

Akhiri Perbedaan Pilihan, Kalah Harus Legowo

PortalSumbar - SOLO, Pasca pemilu, berbagai upaya dilakukan agar suasana di masyarakat tetap aman, damai dan kondusif. Salah satu upaya yang dilakukan yakni mengundang puluhan organisasi masyarakat (ormas) dari berbagai pendukung paslon presiden dan wakil presiden untuk duduk bersama dalam membahas kepentingan yang lebih besar.

Dalam merajut kembali perbedaan pilihan pasca pemilu, digelar diskusi publik bertajuk ''Pesta Demokrasi untuk Kemajuan Indonesia'' di Solo Bistro, Jalan Slamet Riyadi, Solo, Jumat (3/5) siang.

Tiga tokoh sebagai pembicara yakni Dosen UMS, Dr Amir Mahmud, Dosen IAIN Surakarta, Dr Sarbini dan Staf Humas UNS, Tommy Deniawan.

Berbagai pandangan, ide serta gagasan tentang pesta demokrasi mencuat dalam diskusi publik tersebut.

Ketiga pembicara panjang lebar menyampaikan pandangan dari berbagai aspek produk hukum, perbedaan politik, ideologi hingga negara yang berdaulat secara konstitusional.

Dr Amir Mahmud menekankan pada pandangan keilmuannya bahwa pesta demokrasi telah usai dan berjalan aman, damai serta kondusif.

''Pemilu merupakan pilihan rakyat, hendaknya semua pihak dapat menerima hasil penghitungan suara dari KPU pada 22 Mei 2019,'' tegasnya.

Tokoh intelektual Islam yang juga dosen UMS tersebut berharap pasca penghitungan suara tidak ada gejolak politik yang memicu konflik horizontal bahkan cenderung destruktif.

''Rakyat harus percayai KPU sebagai penyelenggara pemilu yang jujur, adil. Masyarakat jangan terpancing isu SARA, hoaks dan tidak mudah percaya bahwa ada kecurangan dalam pemilu,'' tandasnya.

Dr Amir Mahmud yang pernah mengikrarkan diri sebagai Ketua Forum Pendukung Daulah Islamiyah tersebut meyakini hasil pemilu dapat dipercaya karena dipantau cukup banyak lembagai survei baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Pendiri Amir Institute tersebut karena tidak menjadi bagian pendukung paslon presiden dan wakil presiden 01 dan 02, secara terang-terangan memaparkan bahwa ada upaya sejak sebelum pemilu hingga pemilu berlangsung seolah-olah sudah ada kecurangan dalam pemilu. Seperti telah ada pencoblosan kartu suara dan lainnya.

Nah untuk meredam konflik horizontal pasca penghitungan suara tanggal 22 Mei 2019, kata Amir Mahmud, siapapun yang akan menjadi pemimpin harus diterima pihak yang kalah atau harus legowo.

''Kalau tidak terima hasil pemilu, bisa menempuh dengan jalur hukum, jadi tidak perlu mengerahkan massa atau people power jika tidak bisa menerima hasil penghitungan suara yang diumumkan secara resmi dari KPU,'' paparnya.

Diskusi yang digagas oleh Amir Institute itu menjadi kajian menarik dari para peserta diskusi untuk menanggapi paparan nara sumber maupun menanyakan hal-hal yang sifatnya substansial.

Adapun sejumlah tokoh yang hadir dalam diskusi diantara dari perwakilan Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Kota Surakarta, tokoh muda dari Pagar Nusa, M Burhan, Ketua Laskar Umat Islam Surakarta, Edi Lukito, dan dari berbagai ormas lainnya dan puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. (ES)

Install aplikasi Portal Sumbar app di Google Play

Komentar