YouTube dan Drag Queen, Propaganda LGBT pada Media Massa

Ucok Simanjuntak | Rabu, 24-04-2019 | 15:40 WIB | 84 klik | Provinsi Sumatera Barat

Oleh : Latifah Gusri

Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi

Universitas Andalas

PortalSumbar - Salah satu bentuk saluran komunikasi dalam penyebaran informasi dengan cepat kepada khalayak luas adalah media massa. Menurut salah seorang pakar Ilmu Komunikasi, Burhan Bungin dalam bukunya Sosiologi Komunikasi (2009) menyebutkan bahwa, media massa adalah media komunikasi dan informasi yang melakukan penyebaran informasi secara massal dan dapat diakses oleh masyarakat secara massa pula.

Tidak hanya memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan kedalam bentuk simbol yang memiliki makna, media massa juga berfungsi sebagai media hiburan, social learning (pendidikan sosial), membentuk opini masyarakat terhadap suatu realitas hingga transformasi budaya, dimana pengaruh yang cukup kuat dari industri media massa, secara tidak sadar akan membangun sebuah budaya global yang populer, serta dimanfaatkan oleh industri media massa tersebut untuk meraih profit atau keuntungan yang besar.

Selain itu, media massa juga dimanfaatkan sebagai saluran utama yang digunakan oleh kelompok tertentu dalam penyebaran ideologi-ideologi mereka, baik dalam bentuk kepentingan ekonomi maupun kepentingan politik.

YouTube Sebagai Media Massa Baru

Pada era perkembangan teknologi saat ini, siapa yang tidak kenal dengan YouTube? Berbagai kalangan mulai dari anak-anak hingga dewasa menjadikan YouTube sebagai salah satu media untuk memenuhi kebutuhan informasi serta hiburan. YouTube adalah salah satu media massa baru yang merupakan produk dari masyarakat modern yang hadir dalam bentuk teknologi canggih audio visual dengan target audience yang tidak terbatas.

Kemunculan YouTube saat ini, selain digunakan sebagai media untuk menghasilkan keuntungan yang sangat besar bagi industri media dan para kapitalis borjuis (golongan para pemilik modal atau investor), YouTube juga dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk menyebarkan ideologi mereka meski mengorbankan kepentingan orang banyak. Salah satunya adalah kelompok yang menciptakan tren terbaru yang dikenal dengan nama Drag Queen.

Dilansir dari Urban Dictionary, Rabu (19/12/18), Drag Queen adalah para pria yang berdandan layaknya seperti wanita yang bertujuan untuk menghibur orang lain. Para Drag Queen memiliki keahlian dalam ber-makeup, menyanyi, menari, akting dan berjalan diatas catwalk seperti model wanita pada umumnya.

Munculnya tren Drag Queen saat ini, bisa dikatakan sebagai salah satu propaganda agar keberadaan LGBT bisa legalkan dan diterima oleh masyarakat.

Kelompok kepentingan dibalik tren tersebut, sengaja menyebarkan ideologi mereka melalui media massa baru seperti YouTube, sehingga menyebabkan orientasi seksual dari orang-orang yang mengikuti tren yang mereka ciptakan tersebut berubah. Tren ini membuat orang-orang menyukai sesama jenis sehingga tidak mampu menghasilkan keturunan yang pada akhirnya akan dapat mengurangi jumlah pertumbuhan manusia secara signifikan dan tidak mengganggu keseimbangan ekosistem dunia.

Kehadiran media massa saat ini, juga dijadikan oleh kelompok kepentingan ini sebagai alat pengontrol pikiran dan tingkah laku manusia, sehingga tren Drag Queen menjadi suatu hal yang lazim oleh masyarakat dan tidak terkecuali oleh anak-anak yang masih berusia dibawah 18 tahun.

Mirisnya, saat ini banyak media massa diluar negeri termasuk YouTube yang mempromosikan dan memperkenalkan anak-anak untuk ikut bergabung dengan tren tersebut. hal ini tentu saja akan sangat membahayakan karena anak-anak yang normal ketika disuguhkan dengan tontonan dari video-video tersebut secara tidak disadari akan dapat merubah arah orientasi mereka secara perlahan.

Media massa dan para kelompok kepentingan ini memperkenalkan Drag Queen sebagai sebuah seni, budaya dan kebiasaan masyarakat, sehingga ajan membuat anak-anak yang menontonya merasa penasaran dan beranggapan bahwa seorang laki-laki yang berpakaian, berdandan dan berperilaku seperti seorang wanita adalah sesuatu yang wajar, sehingga tidak akan menjadi sebuah persoalan ketika perilaku tersebut diikuti atau ditiru. Hal-hal tersebutlah yang nantinya menjadi faktor penyebab anak-anak beresiko terkena LGBT sejak dini.

Misalnya saja, Nemis Quinn Melancon Golden, seorang anak laki-laki yang masih berusia sembilan tahun tampil pada sebuah acara televisi, This Morning yang dilansir dari Tribun Medan, Rabu (19/12/18), berhasil membuat heboh pemirsa tayangan tersebut. Nemis yang pada saat itu tampil menggunakan wig berwarna pink dan lipstik hitam, mengaku bahwa dirinya tampil pertama kali di depan umum sebagai seorang Drag Queen pada saat berusia tujuh tahun. Ia memutuskan menjadi Drag Queen karena ia tertarik menonton serial TV RuPaul's Drag Race. Tidak hanya Nemis, dilansir dari Daily Mail, Rabu (19/12/18), seorang Desmond Napoler dari Brooklyn di New York City juga menyatakan minatnya terhadap dunia makeup dan fashion wanita kepada publik.

Tidak tanggung-tanggung, bocah laki-laki yang masih berusia sepuluh tahun ini berhasil mendirikan club Drag Queen khusus anak-anak yang masih dibawah umur dengan nama Haus of Amazing. Klub ini didirikan oleh Desmond karena menurutnya masih banyak anak kecil diluar sana yang memiliki keinginan serupa dengan dirinya yakni diakui menjadi seorang Drag Queen.

Selain tampil dengan tren Drag Queen di kehidupan sehari-hari mereka, anak-anak ini juga menjadikan media massa terbaru seperti YouTube sebagai instrumen untuk menyeret masyarakat kedalam dunia kapitalis dengan menempatkan masyarakat sebagai masyarakat konsumen dimana pola konsumsi dari masyarakat sangat bergantung pada tanda yang diperkenalkan oleh media. Hal ini terlihat dari video-video tutorial makeup yang diunggah pada akun YouTube mereka sehingga mereka meraup keuntungan yang sangat besar dari subscriber serta menjadikan penonton konten tersebut ikut konsumtif terhadap produk-produk kecantikan yang digunakan. Lalu dimana letak kontrol dari orang tua terhadap tren ini?.(*)

Install aplikasi Portal Sumbar app di Google Play

Komentar