Perkembangan Subjective well-being pada Anak dari Orang Tua yang Bercerai

Ucok Simanjuntak | Rabu, 24-04-2019 | 15:40 WIB | 43 klik | Provinsi Sumatera Barat

Oleh : Henny Suryani Susanta

Mahasiswi Pascasarjana Ilmu Komunikasi Unand

PortalSumbar - Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin prihatin akan meningkatnya angka perceraian setiap tahun, menurutnya hal ini terjadi disebabkan pergeseran makna dan nilai mengenai pernikahan dan perceraian. Dihadapan ratusan ASN (Aparatur Sipil Negara) di kantor wilayah Kementrian Agama Sulawesi Tengah , Senin (17/09/2018), menteri agama mengungkapkan perubahan pemaknaan pernikahan membuat pasangan suami isteri generasi sekarang bahkan ada yang merencanakan perceraian (wartakotalive.com, Selasa 18 September 2018, 06.46 WIB, Editor Hertanto Soebijoto).

Kurun waktu pada tahun 2015-2017 putusan perceraian di pengadilan agama seluruh Indonesia mengalami peningkatan. Pada 29 pengadilan agama Tahun 2015 tercatat berjumlah 394.246 perkara (cerai talak: 113.068 dan cerai gugat : 281.178) dan yang diputus sebanyak 353.843 perkara (cerai talak :99.981 dan cerai gugat 253.862). Tahun 2016 tercatat berjumlah 403.070 perkara dan Tahun 2017 tercatat berjumlah 415.848 perkara (hukumonline.com, Senin 18 Juni 2018, Rofiq Hidayat).

Sebuah hasil penelitian jangka panjang Hetherington & Stanley Hagan (dalam Papalia, Olds & Feldman,2004) menunjukkan bahwa hanya 30% dari perceraian yang dipenuhi percekcokan yang berdampak baik bagi anak dan 70% perceraian, termasuk yang hanya memiliki sedikit konflik akan berdampak lebih baik bagi anak bila perkawinan dipertahankan, setidaknya sampai mereka tumbuh besar.

Penelitian ini fokus akan 30 % dari perceraian yang berdampak baik bagi anak setelah ia tumbuh dewasa, sebagai stimulus yang menyatakan bahwa mereka yang tumbuh dari tekanan akan hidupnya yang kurang bahagia dimasa kecil salah satunya perceraian orang tuanya. Ia maju selangkah lebih kedepan dibanding teman seusinya disaat ia telah dewasa, apakah itu dalam bagaimana cara mengatasi kesulitan permasalahan yang dirasakan dalam perjalanan hidup mereka bidang pekerjaan, rumah tangga dan pola pengasuhan anak disebabkan kewaspadaan dalam bertindak dengan selalu berpikiran positif bahwa saya bisa, saya sama dengan mereka, sang pencipta tak menzahalimi ciptaannya selama ia terus berusaha, sabar dan berdoa.

Semakin banyak kasus perceraian yang terjadi, semakin banyak pula anak-anak yang menjadi korban atas perceraian. Dampak dari perceraian orang tua bisa menghasilkan impact yang sangat besar ke perkembangan anak-anak. Contoh negative dari dampak perceraian orang tua seperti depresi, sulit mempercayai orang lain , merasa kesepian serta sulit menentukan siapa pasangan hidup yang cocok bagi mereka berikut tips apa yang harus diterapkan bagi anak mereka nantinya.

Penulis lebih tertarik dengan bagaimana cara menjadi seorang yang memiliki pribadi yang sukses yang lahir dari anak korban perceraian orang tua mereka, karena sesuai uraian diatas kasus perceraian menjadi hit atau budaya bagi generasi sekarang.

Menurut Freud (dalam psikologi komunikasi,2012:19), perilaku manusia merupakan hasil interaksi tiga subsistem dalam keperibadian manusia: id,ego dan superego. Id atau hawa nafsu, ego yaitu mediator antara hasrat dengan tuntutan rasional dan realistik sedangkan superego yaitu hati nurani.

Hasil penelitian menyebutkan bahwa pada umumnya perceraian akan membawa resiko yang besar pada anak, baik dari sisi psikologis, kesehatan maupun akademis (Rice & Dolgin, 2002). McDermot (dalam Stevenson & Black,1995) mengungkapkan bahwa banyak anak yang secara klinis dinyatakan mengalami depresi seiring dengan perceraian orang tua mereka.

Selain itu Hetherington (dalam Stevenson & Black, 1995) mengungkapkan bahwa setelah 6 tahun pasca perceraian orang tuanya anak akan tumbuh menjadi seseorang yang merasa kesepian, tidak bahagia, mengalami kecemasan, dan perasaan tidak aman.

Pada hasil wawancara penelitian yang dilakukan oleh penulis menunjukkan bahwa anak yang memiliki subjektil well being yang tinggi dengan tekanan akan situasi yang mereka alami diatas akibat perceraian orang tua mereka, mereka tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Dalam pikiran mereka distimulus saya harus bisa sukses dengan keadaan apapun, saya harus percaya diri dan yakin bahwa hidup kita tidaklah hina dibandingkan teman yang memiliki keluarga harmonis namun inilah takdir yang harus dijalani tidak ada hal harus membuat minder, seyogyanya kita harus mampu menimbulkan dan menghilangkan rasa takut.

Berbagai efek negatif dan tidak merasakan kepuasan dalam hidupnya akibat perceraian yang terjadi pada orang tuanya yang terbawa hingga mereka dewasa namun mereka selalu dengan stimulus/respon positif bahwa saya harus sukses dengan keadaan apapun dan memiliki kehidupan yang lebih baik dibanding kehidupan orang tuanya.

Kemudian hasil wawancara tersebut di dukung dengan adanya beberapa penelitian yang dilakukan oleh Watson bersama Rosalie Rayner di John Hopkins tujuannya menimbulkan dan menghilangkan rasa takut, bahwa individu yang mempunyai pengalaman perceraian orang tua di masa kecilnya, memiliki kualitas hidup yang lebih tinggi di masa dewasanya dibandingkan dengan individu yang tidak memiliki pengalaman perceraian orang tua selama ia mampu memberi stimulus/respon positif pada dirinya dengan menimbulkan dan menghilangkan rasa takut yang ditimbulkan dari efek perceraian orang tua mereka.

Semua fakta dari efek negativ yang ditimbulkan dari perceraian orang tua mereka, sehingga ia mencoba membuat stimulus/respon berbalik menjadi positif hal itu terus ditanamkan di dalam id,ego dan superego tanpa lupa terus berdoa bahwa penentu hasil semua hal adalah sang pencipta dan stimulus inilah pemicu yang melahirkan pribadi dengan subjektif well being yang tinggi.

Konsep psikologi manusia paling dominan diantaranya psikoanalisis, behaviorisme, psikologi kognitif dan psikologi humanistis. Penelitian yang dilakukan oleh Watson bersama Rosalie Rayner di John Hopkins (psikologi komunikasi,2012:23) tujuannya menimbulkan dan menghilangkan rasa takut bahwa pengalaman adalah paling berpengaruh membentuk prilaku, menyiratkan betapa elastisnya manusia. Ia mudah dibentuk menjadi apapun dengan menciptakan lingkungan yang relevan.

Rosalie Rayner membuat penelitian dengan membuat bayi 11 bulan menjadi takut dan berani dengan seekor tikus. Sebutlah nama bayi tersebut Albert, ia sangat menyanyangi tikus sehingga untuk membuat proses takut dalam dirinya sipeliti memukul lempeng baja dengan keras tepat dibelakang kepala sibayi setiap memegang tikus akhirnya sibayi menjadi takut dengan tikus bahkan dengan suara tikus bergerak saja sudah menjadi takut (patologis).

Pavlov, pikiran mengenai tugas atau rencana baru akan mendapatkan arti yang benar jika ia berbuat sesuatu, asumsinya dengan rangsangan tertentu prilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang diinginkannya.

Bandura menambahkan konsep belajar social- peranan ganjaran dan hukuman dalam proses belajar. Belajar terjadi karena peniruan (imitation) kemampuan meniru respon orang lain. Bila anak diganjar bila mengungkapkan perasaanya maka ia kan sering melakukannya namun disaat dicela atau dihukum ia akan menahan diri untuk berbicara walaupun ia memiliki kemampuan untuk melakukannya.

Prilaku ditentukan oleh peneguhan, sedangkan kemampuan potensial untuk melakukan ditentukan oleh peniruan

Lewin, prilaku manusia harus dilihat dalam konteks, bukan sekedar respon pada stimulus namun berbagi gaya yang mempengaruhinya secara spontan.

Lewin menyebutkan seluruh gaya psikologis yang mempengaruhi manusia sebagai ruang hayat (life space). Ruang hayat terdiri atas tujuan dan kebutuhan individu, semua factor yang disadarinyanya dan kesadaran diri. Teori ini pada pokoknya menyatakan bahw individu berusaha mengoptimalkan makna dalam persepsi,perasaan, kognisi dan pengalamannya. Bila makna tidak optimal, timbul tension yang memotivasi orang untuk menguranginya.

Psikoanalisis prilaku manusia merupakan interaksi antara komponen biologis (id), komponen psikologis (ego) dan komponen social (superego) atau unsur animal, rasional dan moral (hewani,akali, dan nilai).

Individu dengan tingkat subjective wellbeing yang tinggi akan merasa lebih percaya diri, dapat menjalin hubungan sosial dengan lebih baik, serta menunjukkan perfomansi kerja yang lebih baik. Selain itu dalam keadaan yang penuh tekanan, individu dengan tingkat subjective wellbeing yang tinggi dapat melakukan adaptasi dan coping yang lebih efektif terhadap keadaan tersebut sehingga merasakan kehidupan yang lebih baik (Diener, BiswasDiener, & Tamir, 2004:18-25).

Pada intinya perceraian bisa memberikan banyak dampak negative di dalam masa perkembangan anak. Namun jika kita mampu memberikan stimulus /respon positif maka akan melahirkan subjective well being yang tinggi tentunya ia harus dengan lebih tekun dan sabar mengarungi perjalanan hidupnya dibanding anak yang hidup dari lingkungan harmonis. Dampak negative dari perceraian ini bisa diminimalisir dengan terus memberikan rangsangan kepada otak sehingga menjadi memori positif bahwa kita bisa, kita tidak rendah dari yang lainnya, mencoba memiliki jiwa yang penuh sahaja bahwa inilah jalan yang terbaik yang membuat diri kamu menjadi lebih matang dan tangguh menghadapi tiap masalah yang datang dalam perjalanan hidup.

Selanjutnya, disarankan juga para orang tua untuk menjaga komunikasi yang harus sering terjalin antara orang tua dan anak, bahkan orang tua dituntut lebih komunikatif lagi terhadap anak korban perceraian orang tuanya. Jangan pernah terpikir hubungan orang tua terputus dengan anak mereka disebabkan perceraian dengan pasangannya mereka. Sebaliknya, mereka harus memiliki tanggungjawab yang lebih besar dalam membangun emosi anaknya sehingga menjadi memori positif bagi anak mereka yang akhirnya menjadi sukses atas sugesti/respon dari memori yang positif tersebut.

Sesuai dengan penelitian Pelatihan berpikir positif, dalam penelitian ini dikembangkan dari model pendekatan berpikir positif Elfiky (2009) yang dikombinasikan dengan beberapa pendekatan psikologi, yaitu relaksasi, visualisasi, dan afirmasi. Pelatihan berpikir positif didasarkan pada asumsi bahwa manusia memiliki kesanggupan untuk berpikir, maka manusia mampu untuk melatih dirinya sendiri untuk mengubah atau menghapus keyakinan yang merusak dirinya sendiri (Ellis dalam Corey,2007).

Elfiky (2009, h.269) menyebutkan saat seseorang berpikir, informasi yang dipikirkannya akan dimaknai dan pada akhirnya memanifestasikan perasaan tertentu. Oleh sebab itu, berpikir positif pada hakikatnya juga berkaitan erat dengan emosi.

Untuk saran yang bisa disampaikan adalah melihat kembali faktor apa saja yang mempengaruhi subject well-being itu sendiri agar tetap dalam kualitas tinggi yang membuat anak korban perceraian sukses dengan semua masalah yang dihadapinya.(*)

Install aplikasi Portal Sumbar app di Google Play

Komentar

Berita Provinsi Sumatera Barat