Strategi Public Relation dalam Menghadapi Krisis

Ucok Simanjuntak | Selasa, 16-04-2019 | 19:01 WIB | 142 klik | Provinsi Sumatera Barat
Strategi Public Relation dalam Menghadapi Krisis

Tri Novera, mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Unand

Oleh: Tri Novera

Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Unand

PortalSumbar - Dua kali mengalami kecelakaan maut, namun belum ditemukan jawaban penyebab jatuhnya pesawat Boeing 737 Max 8. Boeing 737 MAX 8 milik Ethiopian Airlines yang jatuh di Nairobi beberapa menit setelah lepas landas dari Addis Adaba, menewaskan 157 penumpang.

Sebelumnya, model serupa yang dioperasikan oleh Lion Air jatuh di lepas pantai Indonesia pada Oktober 2018, menewaskan 189 orang di dalamnya. Kedua peristiwa ini tentunya menjadi pukulan berat bagi perusahaan Amerika tersebut. Boeing belum berkomentar lebih jauh terkait insiden tersebut, tapi pihaknya mengatakan siap membantu penyelidikan.

Kasus di atas merupakan salah satu krisis yang dihadapi oleh sebuah perusahaan atau organisasi. Tentunya ini menjadi tugas berat bagi praktisi Public Relations perusahaan atau organisasi untuk mengembalikan reputasi perusahaan di tengah-tengah krisis yang terjadi.

Krisis public relations adalah suatu peristiwa yang dapat membahayakan image perusahaan, reputasi maupun stabilitas keuangan. Suatu krisis dikatakan krisis public relations apabila krisis tersebut diketahui oleh publik dan mengakibatkan munculnya persepsi negatif terhadap perusahaan, organisasi atau citra seseorang.

Krisis merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan organisasi, baik itu organisasi kecil atau besar, profit dan non profit, semuanya tidak akan lepas dari yang namanya krisis. Bedanya antara organisasi tersebut terletak pada besar kecilnya krisis yang dihadapi dan bagaimana organisasi tersebut menanggulangi krisis tersebut.

Tidak ada seorang pun yang dapat memprediksi kapan krisis bisa terjadi, karenanya penting sekali supaya siap dengan format prasarana, seperti kata-kata atau pesan kunci yang sudah tersedia, format pengumuman atau teks iklan pernyataan simpati atau ikut berduka cita.

Menurut Davis Young dalam bukunya Building Young Company's Good Name, krisis adalah segala sesuatu yang mengancam integritas dan persepsi tentang organisasi dan pemimpinnya (Suparmo, 2011). Selain itu, Haywood dalam Chatra dan Nasrullah (2008) cenderung menyederhanakan pengertian krisis sebagai "keadaan darurat (emergency)" yang tentu saja berbahaya bila tidak dihadapi secara serius.

Institusi/perusahaan dalam krisis perlu mengambil tindakan yang menunjukkan kepedulian atau empati terhadap masyarakat. Sasaran perusahaan dalam menghadapi krisis adalah mengakhirinya secepat mungkin dan yang lebih baik lagi, mencegahnya tidak terjadi. Oleh karena itu, perusahaan/institusi harus bersikap menghadapi yang tak terduga: bencana atau isu yang dapat mengarah ke krisis.

Dalam buku karya Dr. Emeraldy Chatra dan Dr. Rulli Nasrullah disebutkan bahwa krisis adalah 'habitat' kehumasan: tempat ia lahir dan berkembang. Tanpa adanya krisis potensial (berupa ancaman) maupun aktual (telah terjadi), kehumasan nyaris tidak ada tempat dalam kehidupan organisasi atau tidak berguna sama sekali. Keandalan seorang praktisi kehumasan baru terlihat saat ia mampu menempatkan diri sebagai tokoh sentral yang bertindak profesional dalam upaya penanggulangan krisis potensial dan aktual.

Pelatihan menangani krisis menjadi penting melalui paparan Strategic Preparedness Management yang merupakan pengetahuan sangat penting yang diakui dalam dunia profesional guna menggugah kesadaran pimpinan perusahaan dalam menghadapi ancaman krisis sehingga dapat memberi jalan keluar melalui komunikasi dalam masa sulit.

Masyarakat akan mudah membentuk persepsi mereka sendiri bila tidak diberi informasi dari perusahaan. Masyarakat perlu mendapatkan jawaban jelas dan dapat dipercaya. Perusahaan tidak dapat berkelit dan mengeluh "seharusnya ini tidak terjadi".

Maka mau tidak mau, perlu kesadaran mengenai pentingnya mengetahui dan menguasai, serta kesiapan menghadapi risiko dan timbulnya krisis. Idealnya perusahaan berinvestasi untuk pelatihan dan pembentukan tim gugus depan manajemen krisis, memiliki Manual dan SOP (Juklak) serta secara periodik memperbaharui dan meningkatkan keterampilan tim manajemen krisis.

Praktisi Public Relations sebagai yang ikut berkepentingan menangani krisis, dapat menggunakan strategi 3P, sebagai berikut (Ruslan, 1994):

1. Strategi pencegahan

Adalah tindakan preventif melalui antisipasi terhadap situasi krisis. Dalam hal ini Public Relations dituntut memiliki kepekaan terhadap gejala-gejala yang timbul diawal sebelum krisis terjadi, dituntut untuk memiliki kemampuan berpikir strategis dalam menganalisa dan sekaligus memposisikan masalah krisis agar nantinya dapat dicegah secara dini.

2. Strategi persiapan

Bila krisis tidak dapat dicegah sejak dini, maka diperlukan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Membentuk tim krisis harus selalu mengadakan komunikasi agar suasana krisis dapat terpantau.

b. Tim krisis harus dapat informasi yang jelas dan akurat tentang perkembangan krisis, sehingga informasi yang diberikan kepada pers tidak menyimpang dengan situasi yang sebenarnya.

3. Strategi penanggulangan

Yaitu apabila strategi pencegahan dan persiapan tidak sempat dilaksanakan, langkah terakhir yang diambil strategi penanggulangan yaitu masa kuratif.

Dalam strategi penanggulangan terdapat langkah-langkah yang harus diambil sesuai dengan situasi dan kondisi. Penanggulangan krisis harus segera diatasi, sebab hal tersebut dilakukan agar krisis tidak menyebar dan berkembang ke sektor lain. Selain itu agar operasional organisasi tidak terganggu dan berjalan efektif.

Dengan mengevaluasi krisis yang terjadi bertujuan untuk melihat sejauh mana perkembangan krisis di masyarakat, serta untuk mengetahui dimana kelemahan dan kelebihan dalam pelaksanaan program manajemen krisis.

Soemirat dan Ardianto menawarkan strategi penanggulangan krisis sebagai tindakan kuratif. Tindakan ini dilakukan jika krisis telah benar-benar terjadi dan tidak sempat atau dapat mencegahnya.

Jika terjadi malapetaka ataupun kejadian yang tidak biasa, kemungkinan krisis mulai terjadi; masyarakat ingin segera mengetahui perkembangannya.

Perusahaan harus segera menginformasikan, masyarakat banyak bertanya, masyarakat akan memberikan tanggapan penilaian moral tindakan perusahaan. Pada waktu genting demikian diperlukanlah tim krisis segera bergerak.

Kepala Humas atau Public Relations segera harus tampil bahkan dia yang harus segera menyiapkan agar Presiden Direktur atau CEO juga harus muncul di layar kaca TV, di radio dan di konferensi pers. Mutlak perlu suatu pelatihan dengan stimulasi program pelatihan manajemen krisis.

Perusahaan yang siap dan terlatih menghadapi segala kemungkinan perusahaan dilanda isu atau krisis akan selamat, keluar dari malapetaka dengan baik, sering pula akan tampil lebih baik dari sebelumnya. Program pelatihan manajemen krisis sangat penting bagi kita semua. Krisis pasti terjadi, hanya saja kita tidak tahu kapan terjadinya.(*)

Install aplikasi Portal Sumbar app di Google Play

Komentar