"PEMILU 2019, DAN KAUM MILLENIAL INDONESIA"

Ucok Simanjuntak | Senin, 15-04-2019 | 22:27 WIB | 94 klik | Nasional

Annisa Weriframayeni, mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Unand

Oleh Annisa Weriframayeni

Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Unand

PortalSumbar - Milenial adalah generasi yang lahir awal 1980-an hingga awal 2000-an. Pada Pemilu 2019, bagian dari kelompok milenial ini sebagian besar merupakan pemilih pemula. Banyaknya jumlah pemilih pemula pada Pemilihan Umum 2019 menjadikan setiap pasangan bakal calon presiden dan wakil presiden fokus pada strategi merangkul generasi ini. Karakteristik yang kuat dari generasi millenial ialah tingginya angka literasi dan keterlibatan mereka di Internet.

Boston Consulting Group (BCG) dan University of Berkeley dalam penelitian "Milenials Amerika 2011: Menguraikan Generasi Enigma" mengidentifikasi wajah kuat milenial Amerika sebagai penduduk asli digital.

57% pemilih Indonesia mayoritas adalah pemilih milenial. Oleh karena itu, seluruh calon legislatif dan senator berusaha berkomunikasi dengan kelompok milenial dan menyusun program strategis yang menyasar kepentingan milenial. Milenial menjadi faktor penentu karena secara jumlah mereka mayoritas.

Angka ini membuat KPU harus berkerja lebih keras lagi untuk melakukan sosialisasi penyelenggaraan Pemilu, termasuk di dalamnya memperkenalkan seluruh kandidat tidak hanya calon presiden dan wakil presiden, tetapi juga legislatif.

Hasil survei juga menyebutkan alasan-alasan apa yang mempertimbangkan kalangan milenial memilih calonnya, termasuk informasi apa yang diinginkan terkait calon kandidat legislatif.

Tahun 2019 disebut-sebut sebagai tahun politik. Pasalnya tahun ini akan berlangsung Pemilihan Umum secara serentak, mulai dari Pemilihan Presiden (Pilpres) hingga Pemilihan Legislatif (Pileg). Pemandangan politik yang hadir lima tahun sekali ini nampaknya mengalami pergeseran tren.

Kini, suara generasi milenial dinilai menjadi penentu keberhasilan seorang calon baik di tingkat daerah maupun nasional. Perspektif para milenial Indonesia adalah, apakah merangkul politik bermanfaat untuk kebutuhan mendesak serta kreativitas dan imajinasi inovatif mereka.

Idealisme dalam politik, yang berarti komitmen penuh terhadap ideologi politik mulai dari haluan kiri, Islami, atau liberal, bukanlah perspektif umum di kalangan politik milenial. Kelompok milenial mempertimbangkan politik berdasarkan dampak nyata dan langsung bagi mereka.

Jumlah dari milenial yang mendominasi suara Pemilu 2019 membuat mereka memiliki peranan penting setidaknya mereka memiliki pandangan murni terhadap sosok pimpinan ke depannya.

Para milenial ini seharusnya memiliki pendirian tersendiri tidak terjebak dalam kegaduhan yang dilontarkan elite-elite yang sebenarnya memiliki kepentingan diri dan kelompoknya.

Kaum milenial justru memiliki sikap kritis atas apa yang dibaca atau dilihatnya dan juga sekarang sudah banyak yang mengeluhkan hoaks yang tersebar dimana mana, khususnya media sosial yang bahkan merambah hingga ke lingkungan keluarga.

Kaum millennial sejatinya selalu up to date dengan informasi dan teknologi, memperbarui informasi sebagai wawasan, dan cara pandang dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang tengah berkembang.

Begitu juga perihal pandangan politik, kaum ini sangat dipengaruhi oleh informasi yang berkembang melalui media sosial. Selain itu, semangat dan loyalitas millennials sangat tinggi. Bahkan banyak partai politik yang memiliki afiliasi dengan organisasi berbasis kepemudaan. Hal ini baik bagi masa depan demokrasi di Indonesia. Karena akan ada kaderisasi.

Kepada para pemilih milenial, ia mengimbau agar menggunakan media internet dengan bijak. Berkomunikasi secara humanis, penuh kesantunan, dan saling hormat menghormati. Oleh sebab itu dibutuhkan media yang tepat dan kreatif untuk penyampaian informasi mengenai tahap-tahap ataupun rangkaian pemilu mendatang dan paling esensial strategi untuk menghapus citra pemilihan umum sebagai rutinitas belaka, bahkan citra yang menganggap politik hanya mengejar keuntungan pribadi atau kelompok, politik kotor, jahat, menghalalkan segala cara.

Pemandangan politik di Indonesia pada pemilu tahun 2019 tentunya memiliki perubahan. Berkaca pada pemilu tahun 2014, di mana pemerintahan saat ini yang memenangi kontestansi, sangat dipengaruhi oleh gerakan relawan, bukan sekadar kekuatan dari komposisi koalisi partai pendukung. Maka dalam hal ini Partai politik sama-sama menarik simpatisan dan pendukung dari kaum millennials sebagai relawan pemenangan.

Tidak hanya dalam tataran akar rumput pemilih dan relawan yang memobilisasi. Tokoh figur politik pun kini menampilkan kaum muda yang millennials dalam setiap even publik. Bahkan mengusung politisi millennials dalam setiap pemilihan di multi level.

Strategi mengundang generasi milenium dalam pemilihan umum 2019 seharusnya bahwa pemilihan umum bukan hanya ajang memilih pemimpin yang memegang posisi politik baru, tetapi juga mendidik generasi muda untuk menjadi pemimpin masa depan serta mengajarkan mereka pendidikan tentang hak dan kewajiban.

Menghormati demokrasi dan proses demokrasi sebab ini menjadi indikator penting dalam mewujudkan demokrasi sebagaimana yang dicita-citakan dalam alinea ke-4 Pembukaan Undang-Undang Dasar NRI 1945 yaitu memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, oleh sebab itu pada pemilihan umum 2019 diharapkan mereka memilih dan mereka dapat merasakan kesenangan dan kebanggaan melaksanakan haknya sebagai warganegara dan wahana pendidikan karena suatu saat generasi Millenial inilah yang akan mewarisi masa depan bangsa ini, maka oleh karena itu diperlukan strategi yang menjadi point penting pada situasi ini.

Semoga kita tidak hanya menghasilkan pemimpin melalui proses demokrasi yang benar, tetapi juga memberikan pelajaran berharga kepada generasi muda bahwa betapa pentingnya kita berpartisipasi dalam pemilihan umum sehingga pada tahun berikutnya generasi muda ini diproyeksikan akan mewarisi pemilihan umum yang lebih demokratis dan lebih bermartabat.(*)

Install aplikasi Portal Sumbar app di Google Play

Komentar