Walikota Sawahlunto: Ubah Mindset dari Kota Buruh Jadi Kota Jasa

Ucok Simanjuntak | Selasa, 03-05-2017 | 15:52 WIB | 213 klik | Kota Sawahlunto
Walikota Sawahlunto: Ubah Mindset dari Kota Buruh Jadi Kota Jasa

Walikota Sawahlunto, Ali Yusuf. (Foto: Dok. Padangkita.com)

portalsumbar.com - Kota Sawahlunto yang eksotis dan dipenuhi bangunan tua bergaya Eropa menjadi daya tarik tersendiri bagi turis dari mancanegara maupun domestik untuk mengunjunginya.

Walau kini nampak elok, sesungguhnya Sawahlunto nyaris menjadi kota mati setelah berakhirnya era tambang batubara.

Bagaimana pemerintah setempat merawat kembali kota yang hampir punah itu ? Redaksi Padangkita.com berbincang dengan Wali Kota Sawahlunto Ali Yusuf, beberapa waktu lalu. Berikut petikannya:

Sejak dulu Sawahlunto dikenal dengan potensi batubaranya, setelah potensi batubara habis apa kemudian yang dikelola ?

Kita mulai mengembangkan sektor jasa dan pariwisata. Selama ini kan perekonomian Kota Sawahlunto memang ditopang dari batubara. Tetapi sejak 2003, sejak tambang permukaan dihentikan. Sawahlunto nyaris menjadi kota mati karena banyak buruh yang kehilangan pekerjaannya.

Nah, dari situ lah muncul ide untuk mengembangkan sektor jasa, sektor pariwisata agar kota ini tetap bisa berkembang.

Kalau potensi batubara, sebetulnya masih ada, depositnya masih ada 100 juta ton, tetapi letaknya di pusat di bawah Kota Sawahlunto. Dengan harga batubara sekarang, jelas tidak mungkin dilakukan penambangan. Kalau harganya Rp1,5 juta per ton mungkin baru bisa untung.

Seperti apa sektor jasa dan pariwisata ini dikembangkan ?

Kita menggali dan mengembangkan potensi budaya dan kearifan lokal. Kita ubah mindset masyarakat dari kota buruh menjadi kota jasa, sehingga masyarakat mendapatkan penghasilan dari sektor ini.

Sawahlunto memang tidak punya hotel bintang 4, tetapi kita punya banyak homestay yang dikembangkan dari rumah-rumah masyarakat. Kualitasnya standar hotel berbintang, ketersediaan kamar sudah mencapai 150 unit dari 53 homestay.

Bagaimana dengan angka kunjungan wisatawan ke Sawahlunto ?

Kunjungan wisatawan cukup tinggi dan terus meningkat setiap tahunnya. Tahun lalu kunjungan wisatawan mencapai 876.000 orang, tahun sebelumnya atau 2015 mencapai 810.000 orang. Tahun ini, Menteri Pariwisata menargetkan kami bisa mendatangkan 1 juta wisatawan.

Kalau untuk wisatawan asing memang masih kecil baru 1.880 orang tahun lalu. Kebanyakan dari Belanda dan Perancis, itu pun sebagian besar datang karena ada keterikatan sejarah. Kita akan terus kampanyekan pariwisata Sawahlunto dengan melaksanakan berbagai event.

Apa saja event untuk menarik wisatawan ?

Sesuai rencana tahun ini kita akan melaksanakan 27 event pariwisata baik tingkat nasional maupun internasional. Seperti Sawahlunto International Music Festival (SIMFes), Sawahlunto International Songket Carnival, dan lain-lain.

Selain jasa pariwisata, sektor apa yang Anda kembangkan ?

Kita terus dorong masyarakat untuk mengembangkan potensi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ini, juga sektor jasa lainnya. Pengembangan UMKM, songket silungkang, kesenian, makanan olahan dan kreatifitas lainnya.

Kita hanya menyiapkan fasilitas, sarana prasarana, bantuan kepada pelaku usaha, pembinaan, dan fasilitasi lainnya.

Saat ini yang sudah berkembang UMKM, sudah 1.250 lebih yang mengembangkan songket. Yang sudah berproduksi dengan baik sebanyak 945 pelaku usaha dengan produksi 950 lembar songket per hari.

Untuk mengembangkan kerajinan songket Silungkang ini kita rutin menggelar Sawahlunto International Songket Carnival (SISCA), harapannya event ini akan mengangkat pamor songket hingga ke mancanegara.

Apa keunggulan songket Silungkang dibandingkan daerah lain ?

Keunggulan ada di motifnya. Motif songket silungkang punya kekhasan tersendiri yang berbeda dengan daerah lainnya. Punya motif yang unik dengan mengedepankan unsur alam, juga warnanya yang bervariasi.

Juga ragamnya. Songket Silungkang punya banyak ragam, ada songket ikat, songket batabua, penuh, benang dua, dan songket selendang lebar.

Di Leiden, Belanda, masih tersimpan 37 motif asli songket Silungkang, baru dua yang dibawa pulang, dan masih ada 35 lagi yang harus dikembangkan.

Soal harga, juga sangat bersahabat. Bisa dipakai siapa saja dan dimana saja. Mulai dari harga Rp175.000 per helai, harga Rp500.000, harga Rp4 juta, sampai harga Rp8 juta, tergantung kemampuan pembeli.

Kita akan kembangkan bagaimana songket ini masuk pasar mancanegara, ke Malaysia sudah. Nanti menyusul diekspor ke negara-negara lainnya.

Potensi lainnya ?

Masih banyak lagi, ada olahan kuliner yang beragam. Karena Sawahlunto ini diisi masyarakat dari berbagai etnis, mayoritas dari suku Jawa dan Minang, makanya jenis kulinernya juga beragam.

Begitu juga kesenian dan kerajinannya, ada kerajinan anyaman bambu yang terus kita kembangkan. Kita setiap desa punya produk, atau one village one product.

Bagaimana dampak pariwisata bagi ekonomi masyarakat Sawahlunto ?

Dampaknya, angka kemiskinan Kota Sawahlunto nomor dua terendah secara nasional di bawah Tangerang Selatan. Angka kemiskinan Sawahlunto hanya 2,22 persen. Pertumbuhan ekonomi juga meningkat tahun lalu mencapai 6,02 persen.

Peran sektor pariwisata terhadap PDRB Sawahlunto juga cukup tinggi sebesar 10,7 persen. Yakni dari UMKM 4,4 persen dan pariwisatanya 6,3 persen. Kita yakin sektor pariwisata dan industri kreatif akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

(*DS/PadangKita)

Install aplikasi Portal Sumbar app di Google Play

Komentar