Komunikasi dan Media Sosial Zaman Sekarang

Ucok Simanjuntak | Sabtu, 04-08-2018 | 16:54 WIB | 50 klik | Nasional
Komunikasi dan Media Sosial Zaman Sekarang

Komunikasi dan Media Sosial Zaman Sekarang

Ditulis oleh : Ilham Firdaus (Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Unand)

PortalSumbar -Pada tahun 2000-an atau lebih tepatnya pertengahan tahun 2008, hampir semua pengguna internet di Indonesia rata-rata memiliki akun facebook (FB). Bagaimana tidak, data yang dirilis oleh checkfacebook.com di tahun 2011, Indonesia adalah pengguna facebook terbesar kedua setelah Amerika Serikat, dengan total pengguna mencapai 35 juta pengguna. Negara yang memiliki jumlah penduduk 230 juta ini berada di urutan kedua setelah Amerika yang mencapai 150 juta pengguna facebook. Sebuah aplikasi media sosial yang diluncurkan guna membantu masyarakat agar mampu berkomunikasi secara lebih efisien dan dapat memudahkan dalam sharing informasi, foto, dan videoantar sesama pengguna facebook. Bahkan sampai sekarang pun facebook menjadi sebuah alternatif media sosial untuk berkomunikasi.

Pada tahun 2013, ketika facebook masih dalam posisi trending topiknya, mucul aplikasi Blackberry Messenger (BBM) yang secara resmi bisa digunakan dan diakses melalui smartphone android. Secara fungsional hampir sama dan tidak berbeda secara signifikan dengan facebook, sama-sama aplikasi yang dibuat dan dirancang secara khusus untuk berkomunikasi secara efisien antar sesama pengguna. Dua tahun berikutnya, di akhir tahun 2015 ketika facebook dan BBM masih menjadi alternatif media sosial untuk berkomunikasi, sebuah portal berita starup dan inovasi teknologi (dailysocial.id) menyebutkan, pengguna aktif whatsapp mencapai 900 juta di seluruh dunia. Menurut hasil survey pengguna teknologi informasi di tahun 2017, yang dirilis oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dari 84,76% mereka pengguna aktif Instan Messenger atau yang disingkat dengan IM (seperti:facebook dan BBM), 65.10% merupakan pengguna populer atau pengguna aktif whatsapp (WA). Whatsapp merupakan sebuah aplikasi media sosial yang juga dirancang untuk memudahkan penggunanya berkomunikasi secara efisien.

Jika kita lihat lagi data pengguna aktif Instan Messenger (IM) seperti pengguna facebook, blackberry messenger, dan whatsapp, dapat disimpulkan bahwa hampir dari seluruh pengguna internet yang aktif di Indonesia ini adalah masyarakat yang pernah memiliki FB, BBM, dan WA. Bahkan sampai sekarangpun masyarakat Indonesia menggunakan ketiga-tiganya, meskipun juga terdapat yang hanya menggunakan satu atau dua aplikasi saja. Namun secara fungsional tetap tidak mengurangi substansinya, yaitu untuk memudahkan sharing informasi, foto, serta videodan membuat komunikasi lebih efisien.

Selasa, 03 Juli 2018, Kementerian Komunikasi dan Informatika memutuskan untuk memblokir aplikasi "Tik-Tok" yang sedang trending topik dan populer di Indonesia, hingga berita pemblokiran tersebut dirilis, seluruh mata pengguna media sosial tertuju ke pemberitaan tersebut. Ada yang merasa senang aplikasi tersebut di blokir, karena dianggap membuat konten negatif, dan tidak baik bagi anak-anak. Bahkan ada juga yang kecewa terhadap berita pemblokiran aplikasi tersebut karena bagi mereka wadah tempat berekspresi sudah tidak ada lagi alias di blokir. Secara fungsionalpun aplikasi Tik-Tok ini dibuat dan dirancang untuk menyalurkan ekpresi yang memiliki bakat video, foto, dan bakat-bakat dibidang komunikasi lainnya. Lantas, kenapa aplikasi Tik-Tok ini mau di blokir?

Kita tahu bahwasanya ketika sedang menggunakan smartphone dan media sosial, maka otak kita seringkali merasa senang dan nyaman. Hal tersebut dikarenakan komunikasi sebagai proses aksi reaksi yang sangat sederhana. Otak kita juga yang mendorong kita untuk mencari tau atau melakukan berbagai kegiatan yang menyenangkan. Ketika kita sedang kesepian biasanya kita akan mengirim pesan melalui media sosial, karena akan terasa menyenangkan ketika kita mendapatkan respons, itulah sebabnya ketika kita menerima pesan terasa menyenangkan. Dan kecenderungan kita sebagai pengguna media sosial adalah menghitung berapa banyak yang menyukai (like) dan seberapa banyak yang sering memberikan komentar, dan ketika media sosial kita mulai berkurang statistik komentar dan likenya, maka kita akan merasa seperti ada yang salah dengan media sosial kita, seakan-akan menjadi trauma tersendiri bagi kita.

Respons yang diberikan oleh otak kita tadi merupakan dampak dari stimulus yang diberikan oleh media sosial itu sendiri. Sama halnya ketika kita merokok, minum alkohol, dan berjudi, dengan kata lain hal itu sangat membuat nyaman. Kita memiliki larangan untuk merokok, minum alkohol, dan berjudi dengan berbagai alasan penyakit dan efek negatifnya, tetapi kita tidak memiliki larangan untuk menggunakan smartphone dan media sosial, itulah yang terjadi, stimulus dari media sosial membuat generasi kita nyaman terhadap smartphone dan media sosial. Yang terjadi di sini adalah karakter kita akan sulit untuk dibentuk dan kita tidak tahu bagaimana untuk membuatkomunikasi yang baik. Kita tidak akan mengerti akan komunikasi yang baik itu seperti apa, karena kita tidak pernah dilatih untuk itu, dan tidak memiliki mekanisme untuk beradaptasi dengan lingkungan dan tekanan. Maka ketika kita mendapat tekanan yang signifikan, kita tidak akan bisa membuat komunikasi yang baik dengan orang lain. Satu-satunya jalan adalah kita akan pergi ke media sosial, dimana hal-hal ini akan memberikan kelegaan yang sementara.

Di sisi lain, kita tahu bahwa bukti ilmiah menunjukkan orang yang sering menggunakan media sosial, sangat rentan terhadap depresi dibandingkan dengan orang yang jarang menggunakan media sosial. Lantas kesalahan kita dalam menggunakan smartphone dan media sosial apa? Masalahnya adalah ketidakseimbangan antara penggunaan smartphone dengan interaksi secara langsung di lingkungan tempat kita berada. Bukan samartphone dan media sosial kita yang salah. Jika kita sedang reunian dengan teman kita, kita hanya sering chating dengan teman yang tidak ada di tempat reunian, istilah sekarang adalah sibuk sendiri dengan media sosial. Dan itu adalah masalah, dan itu adalah kecanduan. Jika kita dalam sebuah reunian bersama dengan orang-orang yang semestinya kita bicara dengan mereka dan mendengarkan mereka, yang kita lakukan adalah meletakkan smartphone di atas meja dan memikirkan chating dengan siapa, upload foto dan video seperti apa, main game, tanpa disadari pikiran kita sudah tidak disitu lagi, dan semua yang berada di sekitar kita menjadi tidak penting untuk dikomunikasikan. Sebelum acara reunian dimulai, kita sering memegang smartphone dan mengaktifkan media sosial. Itulah yang terjadi, dan fakta menunjukkan bahwa kita tidak bisa melepaskan smartphone kita dan itu adalah kecanduan.

Lau apa yang semestinya kita lakukan? Seperti kecanduan alkohol, kita harus mengeluarkan alkohol dari rumah kita, kecanduan merokok, kita harus berhenti untuk merokok, kecanduan berjudi. Kita harus berhenti berjudi, karena dengan menyingkirkan hal-hal buruk tersebut, itu semua akan jauh lebih baik. Begitu juga dengan kecanduan smartphone dan media sosial, kita harus menyingkirkan smartphone dari hadapan kita. Sehingga kita akan menikmati hal-hal yang ada di sekitar kita. Semua bisa dimulai dari hal yang kecil, dan suatu hubungan yang baik akan dapat dimulai dengan berkenalan. Maka kita mulai interaksi dengan teman disamping kita, saling bertanya jawab, dan begitulah kita memulai dan membentuk suatu hubungan komunikasi yang baik.

Dan yang harus dipahami dan dipelajari oleh kita sekarang adalah kesabaran, bahwasanya segala sesuatu yang sangat berarti dan baik (seperti cinta, karir, kebahagiaan, prestasi dan keterampilan), semua itu membutuhkan waktu dan kedisiplinan. Meskipun kita berhasil dalam salah satu hal, tetapi secara keseluruhan hal-hal yang lain penuh dengan perdebatan, memakan waktu yang lama, melalui berbagai kesulitan, dan jika kita tidak mempelajari dan memahami cara untuk membuat suatu hubungan yang baik maka kita akan jatuh dan terpuruk. Dan kemungkinan paling buruk yang sudah kita lihat bersama adalah peningkatan angka bunuh diri karena overdosis narkoba. Banyak anak yang putus sekolah karena depresi, menyebabkan hancurnya suatu hubungan, waktu yang terbuang sia-sia, menguras materi, dan membuat hidup kita semakin buruk dan semakin terpuruk, semua itu sangat parah, dan bermula dari kecanduan. Maka, mulailah ssesuatu tersebut dengan membuat dan membangun komunikasi yang baik. (*)

Dikutip dari : Padek.co

Install aplikasi Portal Sumbar app di Google Play

Komentar