MAULID NABI MUHAMMAD SAW: MEMPERINGATI ATAU MENTAULADANI?

Ucok Simanjuntak | Rabu, 29-11-2017 | 22:11 WIB | 60 klik | Provinsi Sumatera Barat
MAULID NABI MUHAMMAD SAW: MEMPERINGATI ATAU MENTAULADANI?

Sumber : google

PortalSumbar - Apa beda memperingati dengan mentauladani? Mengapa kita harus memperingati, dan mengapa kita harus mentauladani. Sebagai seorang muslim, kita tidak harus untuk memperingati, karena disisi lain kita harus mentauladani.

Sebuah pemahaman yang baik mengenai apa itu maulid nabi Muhammad SAW sehingga dapat memberi pemahaman kepada masyarakat yang cenderung menyamakan makna maulid nabi Muhammad SAW.

Memperingati dan mentauladani sama-sama memuliakan suatu peristiwa untuk mengingat suatu kejadian. Meskipun sama-sama memuliakan, makna dari keduanya berbeda. mentauladani dimaknai dengan mengikutsertakan atau menyatakan sesuatu dengan tindakan secara berkesinambungan.

Sedangkan memperingati hanya sebatas perayaan atau selamatan. Inilah yang menjadi pembeda kenapa meneladani lebih penting dari pada memperingati, karena sifatnya lebih luas dan menyatu menjadi suatu hal yang dapat ditiru dan dicontoh dalam kehidupan.

Bertepatan 12 Rabiul awal 1438 Hijriah yang jatuh pada tangal 01 November 2017, hampir seluruh individu-individu muslim dan kelompok-kelompok yang muslim di berbagai daerah memperingati hari maulid nabi Muhammad SAW, antara lain ada kelompok siswa dan pelajar, dan ada juga kelompok-kelompok majlis lainnya. Hampir seluruhnya memperingati hari maulid nabi Muhammad SAW, terutama di Indonesia.

Akan tetapi, mayoritas dari kelompok siswa dan pelajar hanya sekedar melakukan kegiatan untuk kebutuhan yang dianggab rutinitas tahunan saja. Padahal, kebutuhan untuk karakteristik dan perilaku hampir dilupakan. Inilah yang menyebabkan siswa dan pelajar muslim di zaman sekarang jauh dari nilai-nilai agamanya.

Lalu, bagaimana dengan mentauladani? Pada hakikatnya seseoraang yang baik itu adalah orang yang dapat berbagi kebaikan kepada orang lain. Niat dan proses meneladani merupakan suatu yang kompleks dan saling berkaitan, sehingga membutuhkan penanaman nilai-nilai yang sangat serius.

Sementara disisi lainnya, proses untuk menjadi seseorang yang baik memerlukan pemahaman yang baik juga. Ketika kita memperingati hari Maulid nabi Muhammad SAW, hendaknya kita tidak hanya sekedar memperingati, tetapi juga mentauladani dari hari kelahiran nabi tersebut.

Pertanyaan yang sekaligus menjadi jawaban bagi kita adalah apa yang harus kita tauladani dari kelahiran nabi?

Kembali ke pemahaman awal, bahwa maulid nabi adalah hari lahirnya nabi, jadi dapat kita ambil esensi dari peringatan maulid nabi ini yaitu sikap-sikap baik yang dilahirkan oleh nabi, itulah yang semestinya kita teladani. Begitu banyak sikap baik yang ada pada nabi, seperti yang kita ketahui bersama, nabi Muhammad SAW adalah sosok seorang hamba yang memilki kesopanan dan perkataan yang sangat baik, bahkan terhadap sesama manusia beliau dinilai sebagai sosok yang mulia dari segi perilaku dan akhlaknya.

Apa sifat dan akhlak baik beliau tersebut? Pertama siddiq, yaitu benar. Apa yang sisampaikan oleh beliau selalu benar dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Kedua amanah, yaitu dapat dipercaya. Menjaga kepercayaan yang diberikan dengan sebaik-baiknya. Ketiga tabligh, yaitu menyampaikan. Sebagai seorang hamba yang dipercayai oleh tuhannya untuk menyampaikan wahyu demi kebaikan diri beliau dan umatnya.

Dan yang keempat fathanah, yaitu bijaksana. Beliau memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan wahyu kepada umatnya, tentu perlu kebijaksanaan yang luar biasa sehingga pesan yang beliau sampaikan dapat diterima oleh orang lain.

Dengan pemahaman seperti ini, praktek secara langsung dan berkesinambungan untuk menjadikan pribadi yang lebih baik sekaligus berguna untuk orang lain semestinya menjadi pilihan. Apalagi di zaman sekarang ini, perlakuan terhadap memperingati dengan mentauladani hari maulid nabi ini harus dibedakan. Jika kita bisa mentauladani hari maulid dengan cara melahirkan sikap-sikap baik kepada diri kita, mengapa harus sekedar meperingati?

Hal ini juga sejalan dengan apa yang sampaikan oleh pakar komuniasi Aqua Dwipayana dalam acara Talk Show pada hari Rabu tanggal 22 November 2017 di Universitas Andalas Padang. Sebagai seorang pakar sekaligus praktisi komunikasi dan motivator nasional, dalam acara tersebut beliau menyampaikan bahwa sukses adalah orang-orang yang dapat berbagi kebaikan kepada orang lain.

Disamping itu beliau juga menyampaikan pesan, untuk menjadi seseorang yang sukses harus memiliki sifat jujur, ikhlas, dan bersyukur. Jujur adalah kunci dari kehidupan, orang lain akan menghargai apa yang kita lakukan apabila kita tidak berbohong dalam mengerjakannya.

Apabila kita selalu bersukur dan ikhlas dalam menjalankan dan menerima kehidupan ini, maka dengan izin-NYA, kita akan memperoleh hasil yang baik. Dan orang yang sukses adalah orang yang dapat berbagi kebaikan kepada orang lain.

Diwaktu yang berbeda pendapat yang sama juga disampaikan oleh Wartawn senior Wiztian Yoetri. Beliau adalah ketua dewan penasehat Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sumatera Barat. Beliau yang akrab dipanggil Pak Cici itu mempertegas bawha sesungguhnya ujian dalam kehidupan ini tidak hanya kegagalan, tetapi juga kesuksesan, dan sikap yang harus kita kembangkan adalah dengan bersyukur, ikhlas, dan berfikir positif atau berbaik sangka, supaya menjadi kekuatan untuk melompat lebih tinggi (sukses) demi berbagi kebaikan.

Sejatinya maulid nabi adalah hari kelahiran nabi, sifat-saifat yang dilahirkan nabi seharusnya kita peringati juga, tentunya sifat-sifat positif atau sifat-sifat yang baik. Sehingga dapat menjadikan kita menjadi seseorang yang baik dan dapat memberikan kabaikan kepada orang lain.

Artinya, hari maulid nabi tidak hanya sekedar peringatan saja, tetapi mari kita menjadikan hari maulid nabi ini untuk melahirkan sikap-sikap yang baik terhadap prilaku keseharian kita.

Tujuannya adalah untuk memberikan pembelajaran juga kepada generasi sekarang, apalagi dari sisi pergaulan dan sisi berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Harus diakui, pada dasarnya mentauladani itu merupakan seseuatu yang memang harus dianjurkan pada umumnya, yaitu untuk jaminan perbaikan dan penanaman karakter yang lebih baik lagi. Jika penanaman karakter ini tidak dilakukan dari sekarang, tentu hasil pencapaian untuk menjadi seseorang yang baik bagi orang lain akan sulit untuk diwujudkan.

Tentunya kita berkomitmen agar apa yang kita tauladani dari hari maulid nabi Muhammad SAW adalah proses memenuhi kebutuhan karakter, akhlak dan perilaku untuk jangka panjang, bahkan untuk selamanya. Namun, disamping itu harus kita akui juga bahwa terdapat suatu keterbatasan dalam diri kita secara individu. Karena pemahaman kita yang berbeda-beda, mungkin belum semuanya bisa memaknai hari maulid nabi ini sebagai hari untuk mentauladani kelahiran sifat-sifat baik nabi, dan keterbatasan-keterbatasan tersebut harus diperhatikan.

Dengan adanya pembelajaran yang lebih baik lagi, maka hasilnya tentu akan bisa kita maksimalkan, sehingga peringatan 12 Rabiul awal 1438 Hijriah yang jatuh pada tanggal 01 November 2017 sebagai hari maulid nabi Muhammad SAW, akan melahirkan sikap-sikap positif yang membawa kita kepada kesuksesan dimasa sekarang dan masa yang akan datang.(*).

Ilham Firdaus (Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Andalas)

Komentar