KID ZAMAN WOW, PROBLEM ZAMAN NOW?

Ucok Simanjuntak | Rabu, 08-11-2017 | 17:01 WIB | 122 klik | Nasional
KID ZAMAN WOW, PROBLEM ZAMAN NOW?

Sumber poto : https://cdn.brilio.net/news.jpg

PortalSumbar - Di zaman modernisasi sekarang, sering terdengar ungkapan bahwa saat ini kita berada dalam era informasi. Dan masyarakat modern dikenal sebagai masyarakat informasional. Artinya ada transisi dari zaman tradisional ke zaman modern, yaitu perubahan masyarakat yang prainformasional menjadi masyarakat informasional.

Segala lini kehidupan masyarakat tidak ada yang tidak disentuh oleh teknologi dan informasi, baik ditingkat individu atau kelompok masyarakat, sekalipun dikalangan lansia, dewasa, remaja bahkan kalangan anak-anak. Dalam melaksanakan rutinitas kesehariannya, hampir semuanya disentuh oleh teknologi.

Salah satu bentuk perkembangannya tersebut adalah tumbuhnya disiplin ilmiah baru yang mana sekarang ini kita mengenalnya adalah media sosial (medsos). Meskipun benar bahwa disiplin ini masih tergolong relatif baru, karena mulai berkembang pada tahun 2000-an, tetapi ia mampu tumbuh dan berkembang sangat pesat, sehingga dalam waktu yang sangat singkat sudah mampu memberikan kontribusi substansial dan bahkan mampu menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat tentang betapa pentingnya penggunanaan media sebagai bentuk dari bagian penting yang tidak boleh dilupakan.

Tidak hanya orang dewasa dan remaja, penggunaan media sosial sudah mulai ditanamkan pada anak-anak, padahal di usia anak-anak yang masih belum mempunyai tanggung jawab yang besar, penggunaan media sosial bukanlah hal yang penting.

Media bagi anak-anak tidak hanya berfungsi sebagai alat permainan, alat baca, dan alat pembelajaran saja, tetapi media juga menjadi alat yang berfungsi sebagai tempat untuk bercerita, berbagi informasi, dan melakukan interaksi, dimana nantinya efek tersebut akan mengubah prilaku, sikap, dan emosi penggunanya.

Pertanyaannya adalah Apakah akan berpengaruh terhadap hal yang positif?, atau berpengaruh terhadap hal negatif?.

Hal terpenting yang kita khawatirkan bersama adalah hubungan yang tidak searah antara anak-anak yang aktif menggunakan media sosial dengan pengawasan yang diberikan dan dilakukan oleh orang tuanya. Harapannya adalah semakin aktif anak-anak tersebut menggunakan media sosial, semain tinggi pula perhatian orang tua dan pengawasan orang tua terhadap anaknya, jangan sampai masa depan anak-anak tersebut di beli oleh perkembangan media zaman sekarang.

Sebuah ungkapan yang mengatakan "Hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini". Artinya adalah sebuah motivasi yang harus ditanamkan ke anak-anak sekarang supaya bisa menjadi generasi yang cerdas, bukan generasi yang candu media sosial.

Kecanduan anak terhadap media sosial dapat mengubah prilaku anak tersebut, bisa mengubah prilaku ke arah positif, bisa juga mengubah prilaku ke arah negatif.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat selama 4 tahun terkhir perubahan prilaku negatif anak-anak meningkat. Terakhir tahun 2014, sebanyak 53 anak menjadi korban kejahatan seksual, sementara anak pelaku kejahatan seksual online 42 anak, korban pornografi dari media sosial ada 163 anak, dan kepemilikan media pornografi di vidio, dan diunggah di media sosial ada 64 anak.

Semua bentuk prilaku negatif anak-anak tersebut di mulai dari media sosial, selama ada pengawasan yang ketat dari orang tua dan keluarga, mungkin angka-angka tersebut bisa di kurangi dan prilaku negatif tersebut bisa di cegah sejak dini.

Media memiliki peran penting dalam mengembangkan kehidupan zaman sekarang. Peran, fungsi, dan tanggung jawab strategis yang diemban media sangat mempengaruhi keberlangsungan kehidupan masyarakat luas. Sebenarnya media sosial merupakan suatu sistem teknologi informasi yang mengedepankan partisipasi penggunanya.

Dalam hal ini pengguna media sosial harusnya berperan sebagai subjek bukan objek saja. Hal inilah yang mesti dipahami oleh pengguna media zaman sekarang, terutama bagi pengguna anak-anak, sehingga mereka tidak menutup diri atas partisipasi mereka dalam kehidupan sosial.

Partisipasi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan sosial di zaman modernisasi sekarang. Asumsi yang mendasarinya yaitu partisipasi adalah orang yang paling tahu tentang apa yang baik bagi dirinya adalah orang itu sendiri (Peter, 1976). Karena, keikutsertaan masyarakat (dalam hal ini anak-anak sebagai pengguna media sosial) terhadap lingkungan sosialnya akan menyangkut dan mempengaruhi kehidupan anak-anak itu sendiri secara luas.

Maka, tidak hanya menggunakan media sosial saja, tetapi mereka juga berhak ikut serta dan berpartisipasi terhadap lngkungan sosialnya.

Oleh karena itu, yang dimaksud dengan partisipasi ialah keikutsertaan masyarakat dalam menentukan segala keputusan yang menyangkut atau mempengaruhi hidupnya (Ramlan Surbakti. 1992).

Sebagai defenisi umum, dapat dikatakan bahwa partisipasi adalah gerakan sosia dari masyarakat, dan dari efek penggunaan media sosial, yaitu kegiatan seseorang atau kelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan, antara lain dengan jalan membuat gerakan-gerakan positif, dan kegiatan-kegiatan peduli lingkungan, baik dalam hal rencana atau ide maupun dalam hal pelaksanaan secara langsung.

Selama ini anak-anak yang aktif dalam media sosial mereka tidak pernah memahami bahwa mereka punya hak atas upaya kontrol terhadap jalannya kehidupan sosial lingkungan sekitar tempat mereka tinggal. Minimnya pengetahuan mereka terhadap hal tersebut menyebabkan kontrol dan partisipasi sangat rendah, padahal dalam kehidupan sosial, kontrol dan partisipasi dari masyarakat sangat diperlukan untuk menciptakan suatu perubahan ke arah yang lebih baik.

Pengamatan dan kenyataan menunjukan bahwa perkembangan media ini akan terus berlanjut dimasa depan. Oleh karena itu, tidak sulit untuk memperkirakan bahwa salah satu ujian bagi masyarakat modern dalam upaya kehidupan sosial ialah bagaimana masyarakat tersebut memanfaatkan media sebagai alat dan wadah untuk memulai kehidupan sosial.

Sebagian besar dari anak-anak zaman sekarang mamahami dan memaknai media sosial adalah supaya meraka terlihat gaul. Gaul menurut pengertian meraka adalah memiliki banyak followers di akun media yang dimiliki, memiliki bayak komentar dan banyak like pada postingan yang di upload, tetapi mereka tidak tahu bahwa makna gaul sebenarnya adalah bagaimana mereka bisa beradptasi dan bersosialisasi di lingkungan mereka tinggal, dan apa kontribusi positif mereka di lingkungan mereka tinggal.

Serta mempelajari tentang bagaimana mereka berpikir, bertindak dan menyikapi gejala sosial yang timbul, bukan membuat masalah dari apa yang mereka dapat dari media sosial.

Ilham Firdaus (Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Andalas)

Komentar