Efektivitas Komunikasi Interpersonal dalam Penyelesaian Konflik Rumah Tangga Pada Pasutri Dual Earne

Ucok Simanjuntak | Jumat, 29-11-2019 | 07:44 WIB | 208 klik | Provinsi Sumatera Barat
Efektivitas Komunikasi Interpersonal dalam Penyelesaian Konflik Rumah Tangga Pada Pasutri Dual Earne

Efektivitas Komunikasi Interpersonal dalam Penyelesaian Konflik Rumah Tangga Pada Pasutri Dual Earn

Efektivitas Komunikasi Interpersonal dalam Penyelesaian Konflik Rumah Tangga Pada Pasangan Suami Istri Dual Earner

oleh : Meri Agustina

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Andalas

PortalSumbar - Padang, Bagi pasangan suami istri yang baru saja menjalin bahtera rumah tangga, tinggal bersama orang tua merupakan pilihan terbaik bagi seorang wanita. Dimana seorang istri bisa belajar menyesuaikan diri dalam menjalani kehidupan baru dengan belajar dari ibunya terlebih dahulu.

Ada beberapa alasan yang membuat pasangan baru untuk tinggal bersama orang tua, diantaranya adalah seorang suami yang belum mampu secara finansial untuk membeli rumah atau mengontrak atau permintaan mertua terhadap pasangan agar tinggal di rumah yang telah disediakan dengan alasan menghemat pengeluaran agar dapat lebih mapan.

Setelah menikah, istri bukan hanya melakukan penyesuaian diri dengan pasangan tetapi juga dengan keluarga barunya. Seharmonis apapun hubungan suatu keluarga, pasti akan pernah merasakan konflik. Konflik dapat menyebabkan dampak positif jika dapat diselesaikan dengan cara berkomunkasi yang efektif dan produktif.

Dalam hubungan pernikahan sering sekali terdapat hambatan dalam berkomunikasi. Oleh sebab itu, pasangan suami-istri harus bersikap terbuka, jujur, saling percaya dan empati. Dengan adanya konflik, dapat meningkatkan kesadaran bahwa ada masalah dalam sebuah hubungan dan juga dapat memberikan kekuatan serta motivasi dalam menghadapi dan menyelesaikan suatu masalah.

Untuk menciptakan keharmonisan dalam rumah tangga diperlukan komunikasi yang efektif diantara kedua belah pihak. Hubungan pernikahan harus terus dibina dengan komunikasi yang baik. Komunikasi interpersonal tidak hanya dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi juga dalam keluarga. Komunikasi antara suami dan istri disetiap pasangan berbeda-beda, dikarenakan beberapa alasan diantaranya perbedaan budaya, latar belakang pasangan, kondisi sosial ekonomi dan usia perkawinan diperlukan cara yang tepat dalam pengiriman dan penerimaan pesan sehingga pesan yang disampaikan dapat dimengerti.

Komunikasi interpersonal yang efektif merupakan salah satu cara penyelesaian konflik dalam rumah tangga. Komunikasi interpersonal adalah proses komunikasi yang dilakukan dua orang atau lebih secara langsung dan dialogis (Suharsono & Dwiantara, 2013 : 28).

Konflik atau permasalahan merupakan suatu yang pasti pernah dirasakan oleh setiap orang. Konflik yang terjadi dalam hubungan suami-istri meluap kepermukaan ketika masing-masing dari pasangan saling menyatakan pendapat, keinginan, atau tujuan yang berbeda tentang sesuatu yang berlawanan. Banyak hal yang menyebabkan terjadinya konflik dalam hubungan suami-istri yang berakibat hubungan tersebut dalam keadaan yang tidak baik dan mengalami kerusakan atau kemunduran dari sebuah hubungan.

Pemicu munculnya konflik dalam hubungan suami-istri diakibatkan oleh beberapa hal sebagai berikut:

1. Konflik hubungan suami-istri karena keinginan yang tidak terealisasikan.

Pembagian tugas rumah tangga menjadi tidak jelas jika pasangan suami-istri sama-sama berkarier, terkadang hal sepelepun bisa menyebabkan konflik pada hubungan mereka.

Misalnya pekerjaan mencuci piring, mencuci baju, memasak, ke pasar dan menjaga anak. Jika tidak adanya pengertian dan empati terhadap pasangan, maka hal kecil seperti ini bisa menyebabkan konflik diantara suami-istri. Kurangnya sikap saling memahami dan mengerti antara suami dan istri, ini berarti dalam hubungan pasangan suami-istri tersebut komunikasi belum berjalan secara efektif. Komunikasi tidak akan berjalan lancar jika tidak ada sikap saling terbuka diantara masing-masing pasangan. Oleh sebab itu harapan dan keinginan pasangan sulit untuk dicapai.

2. Konflik yang terjadi karena pekerjaan.

Salah satu penyebab terjadinya konflik hubungan suami-istri adalah pekerjaan. Terlebih lagi jika masing-masing dari pasangan memiliki kesibukan dalam berkarier akan berpeluang terjadinya suatu konflik. Dengan kesibukan pasangan tersebut akan sulit melewati waktu untuk kebersamaan, sehingga komunikasi interpersonal menjadi tidak efektif.

Bagi pasangan suami-istri, pekerjaan telah mengurangi waktu kebersamaan diantara mereka. Karena sibuk dengan karier, sehingga waktu merupakan suatu hal yang sangat berharga bagi pasangan suami-istri. Jika tidak segera diatasi maka akan berakibat buruk pada hubungan mereka.

3. Konflik suami-istri yang disebabkan ikut campur orang ketiga.

Keinginan untuk disayangi dan diutamakan dalam sebuah pasangan suami-istri merupakan hal yang wajar. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan dan harapan seorang pasangan yang selalu ingin dicintai dan dihargai. Hubungan seseorang akan menjadi sangat indah dan harmonis jika diantara mereka menanamkan rasa saling menyayangi, menghormati dan memiliki satu sama lain. Rasa saling menyayangi sangat diperlukan untuk dapat beradaptasi terhadap pasangan, karena dengan kurangnya rasa saling menyayangi akan membuat hubungan menjadi renggang atau tidak harmonis.

Ikut campurnya orang ketiga dalam rumah tangga dapat memicu terjadinya konflik antara suami dan istri. Seperti dalam hal mengurus anak, pembagian pekerjaan rumah, keuangan dan hal yang intim dalam setiap pasangan. Jika ada campur tangan orang ketiga, maka akan menyebabkan miskomunikasi, rasa tidak nyaman bahkan kegaduhan. Masalah seperti ini tidak dapat diabaikan begitu saja, karena akan terjadi berulang-ulang dan dapat membuat keretakan dalam hubungan rumah tangga.

Geral R. Miller mendefinisikan komunikasi sebagai suatu sumber menyampaikan suatu pesan kepada penerima dengan niat yang disadari untuk mempengaruhi perilaku penerima (Mulyana, 2016 : 68). Komunikasi merupakan proses penyajian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk menginformasikan, merubah tingkah laku, gagasan langsung secara lisan ataupun tidak langsung melalui media.

Komunikasi interpersonal atau antarpribadi adalah komunikasi yang pesannya disusun dalam bentuk verbal atau nonverbal sebagaimana komunikasi pada umumnya komunikasi antarpribadi selalu terdiri dari dua unsur pokok yaitu isi pesan dan bagaimana isi pesan dilaksanakan secara verbal atau nonverbal (Cangara, 1998 : 32).

Komunikasi interpersonal berfungsi untuk memperbaiki dan mengembangkan perubahan melalui interaksi dalam berkomunikasi, pihak yang terlibat untuk memotivasi, semangat dan dukungan agar dapat merubah perasaan, pemikiran, dan sikap sesuai dengan yang dibicarakan. Secara umum fungsi dari komunikasi interpersonal adalah memberitahukan pesan yang umpan baliknya didapat ketika proses komunikasi berlangsung. Komunikasi interpersonal bisa menjadi sangat efektif dan bahkan sebaliknya menjadi sangat tidak efektif. Permasalahan yang terjadi pada pasangan suami-istri membuat komunikasi antarpribadi menjadi tidak efektif.

Menurut Soerjono Soekonto konflik adalah perselisihan atau perdebatan suatu proses yang dilakukan oleh orang atau sekelompok orang untuk mewujudkan keinginannya dengan cara memberontak lawan dengan peringatan dan keributan (Soekonto, 1992 : 86). Sedangkan menurut Collins, konflik adalah suatu pemusatan dalam kehidupan sosial. Salah satu penyebab terjadinya konflik adalah tidak teraturnya hubungan individu misalnya aspek ekonomi, sosial, dan kekuasaan.

Konflik juga dapat terjadi akibat adanya mobilisasi sosial yang memupuk hasrat yang sama (Ritzer & Goodman, 2004 : 135-136). Konflik perkawinan adalah pergumulan mental antara suami dan istri yang diakibatkan oleh keberadaan dua pribadi yang memiliki kepribadian, pandangan dan tata nilai yang berbeda dalam menilai sesuatu dan menyebabkan pertentangan sebagai akibat dari adanya keinginan, kebutuhan, usaha atau tekanan dari luar dan dalam yang bertentangan atau tidak sesuai (Dewi & Basti, 2008).

Rusaknya suatu hubungan mengandung komunikasi yang khusus. Oleh sebab itu diperlukan pola komunikasi untuk mengatasi hubungan suami-istri yang sedang memburuk (Devito, 2011 : 279-281), diantaranya adalah pertama: menarik diri, dapat dilakukan secara nonverbal apabila pasangan secara emosional berdekatan, mereka dapat menghuni ruang fisik yang berdekatan, tetapi bila mereka berjauhan, mereka membutuhkan ruang yang lebih luas. Kemudian secara verbal, bila biasanya ada keinginan untuk saling berbicara dan mendengarkan, namun menjadi berkurang bahkan tidak sama sekali. Dengan membicarakan topic-topik yang tidak penting untuk menghindari pembicaraan masalah yang serius.

Kedua: pengungkapan diri, apabila hubungan telah memburuk pengungkapan diri dipandang tidak penting lagi, karena meraka merasa pasangan tidak akan memberikan dukungan dan bahkan dapat merugikannya.

Ketiga: pengelabuhan, meningkat dengan memburuknya hubungan. Adakalanya ini berbentuk dusta dilakukan karena untuk menghindari pertengkaran. Kadang pengelabuhan dalam bentuk penghindaran, dilakukan pada hubungan yang sedang memburuk.

Keempat: reaksi evaluative, memburuknya hubungan sering kali meningkatkan jumlah evaluasi negatif dan mengurangi evaluasi positif. Evaluasi negative sering kali menimbulkan pertengkaran dan konflik. Salah satu ciri dari konflik ini adalah bahwa waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan dapat sangat lama dan periodenya membutuhkan waktu yang lama.

Kelima: perilaku yang diharapkan, selama memburuknya hubungan maka permintaan akan perilaku yang menyenangkan menjadi berkurang dan semakin banyak permintaan untuk menghentikan perilaku yang tidak menyenangkan.

Kemudian yang terkahir adalah saling memuji, dalam situasi hubungan yang memburuk saling memuji semakin berkurang dan dukungan positif jarang ditemukan.

Untuk membenahi konflik yang sedang terjadi diperlukan manajemen konflik yang efektif diantaranya (Devito, 2011 : 304-305) yaitu pertama; berkelahi secara sportif, pada kebanyakan hubungan antar pribadi, kita tahu dimana garis batas yang harus ditarik. Jagalah hubungan agar anda tidak menyakiti pasangan dan tidak akan menyebabkan semakin parahnya permusuhan dan kemarahan.

Kedua; bertengkar secara aktif, merencanakan peran aktif dalam konflik antar pasangan. Jika konflik ingin dituntaskan, maka harus dihadapi secara aktif oleh kedua belah pihak.

Ketiga; bertanggung jawab atas pikiran dan perasaan, jika anatara pasangan ada sikap yang tidak benar atau sependapat maka katakanlah jika anda tidak sependapat.

Keempat; lansung dan spesifik, pusatkanlah konflik pada pasangan anda dan jangan memperluas dengan mengikutsertakan ibunya, adik dan saudara atau teman-temannya.

Selanjutnya adalah gunakan humor untuk meredakan ketegangan dengan bahasa yang menyenangkan pasangan.

Setiap permasalahan pasti ada solusi dan jalan keluarnya, demikian pula masalah yang terjadi pada pasangan suami-istri diantaranya adalah: Pertama, menjalin komunikasi dan berdiskusi tentang apa yang menjadi keinginan dan impian suami-istri terhadap keluarganya. Dapat dimulai dengan membicarakan hal-hal yang umum, seperti rumah idaman, merencanakan anggaran biaya pendidikan anak dan lain-lain. Semakin banyak waktu yang diluangkan suami-istri untuk berdiskusi, maka akan membuat hubungan menjadi lebih harmonis.

Kedua, menghargai setiap usaha dan pendapat dari pasangan. Ketika istri sedang mencurahkan hatinya terhadap permasalahan yang dia hadapi, jadilah seorang suami yang mendengarkan dan memberi solusi dari permasalahan yang sedang dihadapi istri, begitupun sebaliknya. Dengan demikian komunikasi dijadikan alat untuk mengekspresikan rasa kesetiaan dan memperkuat komitmen terhadap pasangan, sehingga suami-istri akan merasakan rumah tangga yang bahagia.

Ketiga, saling percaya dan menghargai pasangan, dengan adanya kepercayaan maka tidak akan ada rasa saling mencurigai diantara masing-masing pasangan. Maka kesuksesan dan keharmonisan dalam mebina rumah tangga akan terwujud.(*)

Install aplikasi Portal Sumbar app di Google Play

Komentar