Rumah Makan Umega: Dari Usaha Menambah Gaji Menjadi Landmark Lintas Tengah Sumatera

Ucok Simanjuntak | Minggu, 30-07-2017 | 06:52 WIB | 1393 klik | Kab. Dharmasraya
Rumah Makan Umega: Dari Usaha Menambah Gaji Menjadi Landmark Lintas Tengah Sumatera

Foto: Rumah makan Umega di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat

portalsumbar.com - Rasanya tak ada orang minang yang tidak tahu dengan Rumah Makan Umega yang terletak di Gunung Medan, Kabupaten Dharmasraya Sumatera Barat. Hampir semua bus-bus asal Sumatera Barat berhenti di rumah makan ini dalam perjalanan pergi dan kembalinya. Bagi penumpang yang sedang pergi, tempat ini adalah titik pelepasan terakhir sebelum menuju tanah rantau. Sementara bagi yang sudah kembali ke kampung halaman, rumah makan ini seolah menjadi gapura ucapan selamat datang di ranah minang.

Rumah Makan ini dibangun di awal 1970-an oleh Zubir Sutan Bagindo, seorang pegawai kejaksaan yang berada di daerah itu. Nama "Umega" sendiri adalah singkatan dari Usaha Menambah Gaji. Zubir melihat peluang besar saat jalur lintas sumatera ruas Sijunjung-Lubuk Linggau selesai diresmikan. Berawal dari bangunan kecil, saat ini komplek rumah makan mini menjadi kawasan one stop service pelintas sumatera. Dalam komplek rumah makan, sudah berdiri SPBU, Toko Swalayan dan Hotel.

Bagi saya, kenangan terbesar pemudik lintas sumatera pada rumah makan umega ini pada megahnya bangunan rumah makan dan menu lengkapnya di sana. Kenangan terbesar itu juga ada pada peniup saluang yang setia memainkan musiknya. Untaian musiknya seperti pesan terakhir sebelum pergi menuju rantau. Sementara bagi yang baru pulang, hal itu menjadi panggilan yang mendekap setiap jiwa yang merindukan kampung halaman.

Setelah bisnis penerbangan murah menghempaskan angkutan darat antar propinsi, ekosistem pendukungnya turut hancur. Rumah makan yang dulu sempat mengalami masa kejayaan sampai awal tahun 2000-an di lintas rute lintas Sumatera ini, perlahan-lahan jadi bangunan kosong berhiaskan semak.

Pengumuman khas dari penyiar rumah makan setiap kali menyambut para penumpang turun dari bis semakin jarang terdengar. Wajah-wajah lelah yang turun dari bus ekonomi melirik iri dan kesal pada kelas super eksekutif juga tidak lagi terlihat. Kita menyaksikan tenggelamnya sebuah peradaban di lintas Sumatera.

Rumah makan Umega rupanya masih bisa bertahan. Tidak hanya itu, bapak tua tukang saluang pun masih setia main musik di depan pintu masuk tidak kenal siang atau malam. Kita masih menjumpai wajah-wajah lelah manusia mencari peruntungan di perantauan. Meski tidak semasif dulu, paling tidak wajah jujur itu tidak punah sama sekali.

Umega mungkin tidak sepopuler dulu lagi di perlintasan Sumatera, namun rumah makan ini masih sangat layak untuk dikunjungi. Sebuah saksi dari sebuah peradaban yang mulai punah. (*DS)

Install aplikasi Portal Sumbar app di Google Play

Berita Terkait Kuliner

Komentar