Home » Artikel

Tidak Hanya Makanan, Obat Juga Bisa Didelivery

Kamis, 2018-12-20 | 15:37 WIB | 40 klik
Sovia Hariani

Sovia Hariani

Mahasiswa Pascasarjana Bioteknologi Universitas Andalas

PENYAKIT adalah keanehan atau ke-abnormalan yang terjadi pada tubuh manusia yang diakibatkan serangan virus, bakteri, jamur, dan lain sebagainya. Serangan virus, bakteri, jamur, dan lainnya itu dapat menyebabkan kerusakan sel-sel dan organ dalam tubuh kita, sehingga kita menjadi lemah dan terganggu.

Secara alami, penyakit akan dilawan terlebih dahulu oleh sistem keamanan atau imun dari tubuh kita. Tetapi sistem imun dari tiap manusia berbeda-beda dan punya batasnya. Sehingga apabila sistem imun tersebut tidak dapat melawan bakteri, jamur, virus, maka sakit akan terus berlanjut dan memperparah kondisi diri kita. Disaat itulah kita memerlukan obat.

Obat merupakan amunisi tambahan bagi tubuh untuk membantu melawan penyakit tersebut. Kita sebenarnya memerlukan zat yang dapat membunuh penyebab penyakit tersebut. Biasanya zat yang dapat membunuh penyakit bersifat toxic. Sehingga obat sebenarnya adalah senyawa yang beracun/toxic yang diatur dengan dosis yang tepat untuk membunuh bakteri, virus, jamur, penyebab penyakit.

Agar kemampuan obat ini maksimal, obat harus diatur agar tertuju pada sasarannya. Seumpama sakit di lambung, obat tersebut harus sampai di lambung dan kandungan inti dari obat akan bereaksi di lambung. Nah, pengaturan atau desain obat inilah yang namanya "drug delivery system" atau sistem penghantaran obat.

Drug delivery adalah metode atau proses senyawa untuk mencapai efek terapeutik pada manusia atau hewan. Obat dilindungi paten teknologi yang mengubah profil pelepasan obat, penyerapan, distribusi dan eliminasi untuk kepentingan produk memperbaiki kemanjuran dan keselamatan, serta kenyamanan dan kepatuhan pasien. Sebagian besar metode-metode umum termasuk pilihan pengiriman non-invasif peroral (melalui mulut), topikal (kulit), transmucosal (hidung, buccal / sublingual, vagina , okular dan dubur) dan inhalasi rute.

Perkembangan sistem penghantaran obat belakangan ini telah sampai juga pada penggunaan teknologi nanopartikel, yang diharapkan dapat memperbaiki sifat penghantaran obat sebelumnya (nasal, transdermal, depot, PEG-drug, dan liposom).

Beberapa keunggulan nanoteknologi ketika diaplikasikan kepada sistem penghantaran obat antara lain, dapat meningkatkan kepatuhan pasien mengkonsumsi obat karena bentuk sediannya dapat diterima dengan baik oleh pasien. Meningkatkan efikasi obat, mengurangi efek samping, dan tentu saja berimbas pada pencapaian kualitas hidup pasien yang lebih baik.

Hal -- hal penting yang menjadi tujuan dalam pengembangan system penghantaran obat adalah terwujudnya suatu sediaan obat yang ideal atau setidaknya mendekati ideal yaitu sediaan obat yang cukup diberikan satu kali saja selama masa terapi, langsung dapat didistribusikan ke tempat aksinya dan memiliki adverse effect yang seminimal mungkin.

Untuk mencapai tujuan tersebut, obat didesain sedemikian rupa dengan mempertimbangkan banyak faktor, seperti farmakokinetik, farmakodinamik, kenyamanan pasien, dan sebagainya. Berdasarkan pertimbangan -- pertimbangan tersebut, barulah diputuskan apakah suatu obat cocok diformulasikan sebagai sediaan obat konvensional atau harus diformulasikan menjadi sediaan obat termodifikasi (modified -- release drug product).

Sebenarnya, perbedaan utama antara Conventional Drug Product dengan Modified--Release (MR) Drug Product terletak pada kapan sediaan obat harus melepaskan obatnya. Conventional Drug Product akan melepaskan obatnya segera setelah obat dikonsumsi (oleh karenanya sering disebut sebagai sediaan Immediate Release, IR), baik itu dikonsumsi secara per-oral maupun melalui jalur administrasi yang lain. Sedangkan MR sebaliknya. Dia didesain untuk tidak segera melepaskan obatnya setelah dikonsumsi. Penundaan ini bisa berdasarkan waktu (aspek temporal) atau tempat absorbsi (aspek spasial). MR temporal maupun MR spasial keduanya bertujuan untuk mendapatkan profil kadar obat dalam plasma yang optimal.

MR dapat diberikan melalui jalur pemberian mana pun baik melalui oral, maupun paranteral seperti implant (susuk KB), liposom, beberapa sediaan transdermal, dan lain-lain. Namun, MR oral lebih banyak berkembang dan lebih sering digunakan. Oleh karenanya, dalam tulisan singkat ini akan lebih banyak bercerita tentang MR oral. Beberapa model MR oral yang beredar di pasaran antara lain yakni Delayed Release (DR), seperti menggunakan teknik enteric coating

Kemudian model Site Specific Release. Dilepaskan ketika sediaan obat mencapai lokasi tertentu dari GI tract. Misalnya, desain sediaan obat yang ditujukan untuk dilepaskan di kolon, dan sebagainya.

Lalu model Extended Release (ER). Istilah ini juga sering dipertukarkan dengan Prolonged Release, Sustained Release (SR), dan Controlled Release (CR). Serta model Programmed Release.

Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari MR antara lain, mengurangi frekuensi pemakaian obat, meningkatkan patient convenience dan patient compliance yang pada gilirannya diharapkan dapat memperbesar peluang tercapainya target terapi, menghindari pemakaian obat pada saat--saat yang "merepotkan" atau saat--saat yang mungkin dilupakan oleh pasien, misalnya pada malam hari. Kemudian mengurangi fluktuasi kadar obat dalam darah. Mengkondisikan agar efek obat lebih uniform, mengurangi risiko iritasi saluran cerna, serta mengurangi efek samping.

Kekurangan sediaan MR disebabkan biaya. Sebab formulasi MR merupakan formulasi yang mempergunakan teknologi yang relatif lebih canggih daripada teknologi yang biasa digunakan untuk IR sehingga wajar jika biaya yang diperlukan pun lebih mahal.

Kemudian karena VIVC seringkali jelek. Sulit sekali mendesain sistem in vitro yang dapat menggambarkan perubahan keadaan in vivo dari satu segmen GIT ke segmen GIT yang lain sehingga wajar jika IVIVC untuk MR seringkali tidak sebaik yang diharapkan.

Selanjutnya karena Dose Dumping. Ini adalah masalah utama dalam formulasi MR. Sebagai ilustrasi (semoga dapat menggambarkan): Obat yang diformulasikan dalam MR selalu diberikan dalam dosis yang lebih besar daripada dosis satu kali minum. Mungkin dosis yang seharusnya diberikan beberapa kali dalam sehari hanya diberikan satu kali (tentu dalam jumlah total yang sama) kemudian diharapkan dapat terlepas sedikit demi sedikit sehingga efeknya sama seperti jika mengkonsumsi obat tersebut secara bertahap (beberapa kali sehari) secara patuh.

Selanjutnys karena mengurangi fleksibilitas pemberian obat, meningkatkan kemungkinan first pass effect, umumnya bioavailabilitas MR kurang baik, dan efektivitas pelepasan obat dipengaruhi dan dibatasi oleh GI residence time.

Idealnya, suatu sediaan MR akan melepaskan obatnya mengikuti orde 0 (nol) atau dalam debit yang sama dari waktu ke waktu. Lebih jauh lagi diharapkan sediaan MR dapat melepaskan obat dalam jumlah yang sama seperti jumlah obat yang telah tereliminasi (baik melalui distribusi, metabolisme, maupun ekskresi) sehingga jumlah obat yang ada di dalam darah senantiasa konstan. Dengan demikian, harapannya efek yang diberikan akan selalu sama dari waktu ke waktu.(**)

Komentar

Artikel lainnya

Baterai Kertas Sebagai Supercapasitor : Inovasi Energi Masa Depan Rabu, 19-12-2018 22:53 WIB

Baterai Kertas Sebagai Supercapasitor : Inovasi Energi Masa Depan

oleh: Rahmi Hidayati
Mahasiswa Bioteknologi Pascasarjana Universitas Andalas
Nanoteknologi dan Kesehatan Rabu, 19-12-2018 22:33 WIB

Nanoteknologi dan Kesehatan

oleh: Azzura Lygo S.Farm, Apt
Biotechnology Magister Student of Andalas University, Padang, Indonesia
Jalan Manggopoh Sabtu, 29-07-2017 12:41 WIB

Jalan Manggopoh

oleh: Oleh: Muhammad Ilham Fadli
Dosen IAIN Imam Bonjol - Padang
Ustad Syam dan Dakwah Konyol di TV Kamis, 27-07-2017 10:40 WIB

Ustad Syam dan Dakwah Konyol di TV

oleh: Oleh: Hamidulloh Ibda
Pengajar di STAINU Temanggung, editor buku Metode Dakwah Khalifah Abu Bakar Assi