Home » Artikel

Baterai Kertas Sebagai Supercapasitor : Inovasi Energi Masa Depan

Rabu, 2018-12-19 | 22:53 WIB | 67 klik
Rahmi Hidayati

Rahmi Hidayati

Mahasiswa Bioteknologi Pascasarjana Universitas Andalas

Baru-baru ini ilmuwan Amerika Serikat telah sukses menemukan sebuah inovasi baru dalam dunia teknolgi khususnya energi. Produk tersebut disebut "Paper Battery" lantaran ketebalannya yang ultra tipis. Baterai ini juga bersifat biodegradable yang dapat mengurangi ribuan ton baterai yang biasanya menumpuk di tempat pembuangan akhir.

Orang yang pertama kali mencetuskan ide baterai kertas adalah Robert Linhardt, seorang kimiawan asal New York. Sedangkan untuk senyawa intinya ditemukan oleh Yi Cui, seorang ilmuwan material asal California.

Berkat kemampuan baterai tersebut yang mudah diuraikan kembali oleh mikroorganisme tanah secara alami menjadi senyawa yang ramah lingkungan, baterai kertas tersebut menjadi gebrakan terbaru dalam dunia teknologi yang dihasilkan ilmuwan Binghampton University dan State University of New York.

Menurut ilmuwan tersebut, pada versi sebelumnya desain baterai kertas sangat sulit untuk diproduksi dan tidak sepenuhnya biodegradable. Namun untuk desain saat ini sudah memecahkan masalah sebelumnya, dan diketahui lebih efisien.

Selain bersifat biodegradable, baterai kertas itu sekaligus menjadi karya besar dan membanggakan bagi komunitas ilmiah yang mengembangkan baterai ramah lingkungan. Baterai kertas ciptaan ilmuwan AS itu merupakan bio baterai yang bahan dasarnya menggunakan campuran kertas dan polimer nano dari karbon. Polimer nano tersebut adalah kunci untuk membuat baterai biodegradable. Material ini dapat diurai dalam air tanpa menggunakan zat berbahaya dan bahan kimia khusus.

Baterai kertas atau "Paper Battery" ini mempunyai bobot yang ringan, dijual dengan harga yang relatif murah, serta sangat fleksibel. Baterai ini dapat dilipat, dililitkan bahkan digunting tanpa mengurangi efisiensi dan kapasitas dari baterai tersebut. Hal tersebut menjadi tolok ukur para peneliti dalam menciptakan baterai kertas. Kekuatan baterai kertas tersebut dapat ditingkatkan dengan cara melipat atau menumpuknya.

Tim peneliti tersebut menyebutkan, produk buatan mereka sangat mudah untuk diproduksi, dimodifikasi dan dikonfigurasi.

Kita tahu bahwa setiap tahun kita membuang miliaran baterai di seluruh dunia. Benda ini tentunya tidak terurai dalam waktu singkat sehingga menyebabkan penumpukan material berbahaya di bumi dan menyebabkan polusi lingkungan. Diketahui juga sampah baterai memang tergolong parah. Inggris membuang baterainya hampir 20 ribu ton setiap tahunnya ke pembuangan akhir. Persentase timbal-asam yang tinggi dapat memberi risiko yang signifikan bagi ekosistem lokal di sekitaran pembuangan akhir.

Tidak hanya sebagai sumber energi pada benda elektronik, baterai kertas juga dapat diaplikasikan dalam beberapa bidang. Jika biasanya kita menggunakan baterai dalam perangkat elektronik, yaitu baterai kertas biasanya digunakan di ponsel, laptop, kalkulator, kamera, mouse, keyboard, perangkat Bluetooth, dan sebagainya. Begitu pula dalam ilmu kedokteran untuk pembentukan jaringan buatan. Dalam bidang kecantikan yaitu untuk pembuatan kosmetik. Dalam bidang farmasi kini dikembangkan juga sistem pengiriman obat (drug delivery), dan sebagainya. Dalam mobil dan pesawat terbang, baterai kertas digunakan dalam kendaraan hibrida karena bobotnya yang ringan.(*)

Komentar

Artikel lainnya

Di Tahun Babi Tanah, Umat Berharap Kebaikan Kepada Dewa Kamis, 07-02-2019 16:40 WIB

Di Tahun Babi Tanah, Umat Berharap Kebaikan Kepada Dewa

oleh: Charlie Ch. Legi
ASN Bagian Humas Pemko Padang
Tidak Hanya Makanan, Obat Juga Bisa Didelivery Kamis, 20-12-2018 15:37 WIB

Tidak Hanya Makanan, Obat Juga Bisa Didelivery

oleh: Sovia Hariani
Mahasiswa Pascasarjana Bioteknologi Universitas Andalas
Nanoteknologi dan Kesehatan Rabu, 19-12-2018 22:33 WIB

Nanoteknologi dan Kesehatan

oleh: Azzura Lygo S.Farm, Apt
Biotechnology Magister Student of Andalas University, Padang, Indonesia
Jalan Manggopoh Sabtu, 29-07-2017 12:41 WIB

Jalan Manggopoh

oleh: Oleh: Muhammad Ilham Fadli
Dosen IAIN Imam Bonjol - Padang