Home » Artikel

Dampak Metode Pembelajaran Daring atau Online

Rabu, 2021-06-09 | 16:33 WIB | 220 klik
Meri Agustina

Meri Agustina

Pegawai Dirjen Pajak Kementerian Keuangan
Dampak Metode Pembelajaran Daring atau Online Berpengaruh Terhadap Anak SD Bermain Game Online Free Fire

PortalSumbar.com - Padang, Merebaknya wabah corona virus desease (Covid-19) yang ditetapkan oleh WHO pada tanggal 11 Maret 2020 sebagai pandemi, begitu juga Pemerintah Indonesia menetapkan kondisi ini menjadi bencana nasional membuat metode pembelajaran berubah secara online atau belajar jarak jauh.

Namun, metode ini banyak dikeluhkan oleh para orang tua karena dinilai kurang efektif, dimana orang tua merasa kewalahan dan menganggap tidak memiliki kapasitas layaknya seorang guru. Menurut Wahyu Aji (2020) dampak pembelajaran daring bagi orang tua yaitu dengan beralihnya fungsi guru yang digantikan orang tua di rumah dengan diberlakukannya sistem pembelajaran daring merupakan masalah baru. Dimana keterbatasan pengetahuan orang tua dalam hal teknologi informasi dan kurangnya keterampilan dalam mengajar banyak terjadi di kalangan masyarakat.

Penerapan pembelajaran daring bagi siswa sekolah dasar akan berdampak pada kehidupan sosial dan pendidikan karakternya. Metode pembelajaran jarak jauh sejak 16 Maret 2020 lalu ini dinilai memberikan dampak negatif bagi anak-anak diantaranya penurunan kualitas capaian pembelajaran, anak kurang bersosialisasi, anak menjadi kurang interaktif dan tidak fokus, dan yang lebih parahnya karena waktu yang biasanya digunakan anak untuk belajar tatap muka di sekolah kini beralih di rumah membuat anak memiliki keleluasaan waktu sehingga disalah manfaatkan anak untuk memilih menghabiskan waktu dengan bermain game online.
Game Online Free Fire atau lebih dikenal dengan singkatan "FF", adalah permainan survival shooter yang dikembangkan oleh 111 Dots Studio dan diterbitkan oleh Garena yang telah dirilis sejak tanggal 30 September 2017 lalu, kini menjadi permainan yang paling banyak diunduh secara global khususnya kalangan bocil (bocah kecil).

Diketahui ada hingga lebih dari 500 Juta player yang sudah Mendownload game Free Fire, serta Free Fire telah memiliki jumlah pemain aktif harian sebanyak 100 juta pengguna di seluruh dunia.

Di Indonesia sendiri, lebih dari 800 ribu tim telah mengikuti turnamen yang diselenggarakan Garena Free Fire pada tahun 2020. (Nugraha, 4 April 2021). Tentu saja ini merupakan suatu jumlah yang sangat fantastis. Free Fire merupakan game battle royale yang dapat dimainkan secara berkelompok, sehingga para pemain dapat berinteraksi antara satu dengan lainnya. Tak heran jika kita melihat seorang anak yang sedang asyik bermain game tampak berbicara sendiri dan tidak peduli dengan lingkungan disekitarnya.

Pada dasarnya bermain game bisa memberikan nilai positif terhadap anak yaitu dapat membuat anak menjadi terampil dan kreatif dalam mencari solusi suatu masalah sehingga anak menjadi lebih mandiri. Namun apabila game disalah gunakan terlebih lagi anak sudah kecanduan bermain game akan memberikan dampak negatif, diantaranya anak menjadi lupa waktu karena seharian bermain game, anak tidak peduli dengan lingkungan disekitarnya karena keasyikan bermain game, anak menjadi tidak fokus dalam belajar, dan anak menjadi lebih mudah emosional.

Sejalan dengan hal tersebut penelitian yang dilakukan oleh Isti Winarni, 2020 menunjukan bahwa penggunaan game online free fire yang tinggi dapat mempengaruhi menurunnya perilaku sosial siswa. Sungguh miris melihat generasi penerus bangsa seperti ini.

Bangsa ini bukan lagi dihadapkan pada ancaman kekurangan orang-orang pintar di era internet. Akses informasi yang tanpa batas memudahkan bagi setiap orang untuk belajar apapun, kapanpun, dan dimanapun. Akan tetapi pembelajaran berbeda dengan pendidikan, khususnya pendidikan karakter.

Bangsa ini butuh generasi penerus yang berkarakter positif, dan itu hanya bisa tercapai dengan mengedepankan keteladanan para pendidik yang harus disaksikan dan dicontohkan langsung oleh para peserta didik. Sudah saatnya Pemerintah dan elemen pendidikan mensiasati bagaimana menggantikan pendidikan karakter yang terpaksa harus terabaikan pada masa pandemi Covid-19 ini.

Wabah Covid-19 tidak ada yang tau kapan pastinya akan berakhir, namun pendidikan harus tetap berjalan, agar dapat menciptakan generasi penerus bangsa yang cerdas dan berdaya guna. Adapun langkah yang dinilai tepat saat ini adalah dengan menerapkan pembelajaran tatap muka kembali, tentunya dengan memperhatikan protokol kesehatan.(*)

Komentar

Artikel lainnya

POLA KOMUNIKASI DAKWAH DA'I Senin, 28-12-2020 15:55 WIB

POLA KOMUNIKASI DAKWAH DA'I

oleh: Romi Altavia
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UNAND 2019
RAYAKAN TUJUH BELASAN MESKI DIRUMAH SAJA Minggu, 30-08-2020 00:04 WIB

RAYAKAN TUJUH BELASAN MESKI DIRUMAH SAJA

oleh: ANNISA WERIFRAMAYENI, M.I.Kom
Alumni Pascasarjana S2 Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Andalas
PAHIT MANIS JADI SEORANG MAHASISWA Jumat, 28-08-2020 00:01 WIB

PAHIT MANIS JADI SEORANG MAHASISWA

oleh: ANNISA WERIFRAMAYENI, M.I.Kom
Alumni Pascasarjana S2 Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Andalas
BAHASA INDONESIA DI MASA ERA REVOLUSI 4.0 Sabtu, 15-08-2020 00:41 WIB

BAHASA INDONESIA DI MASA ERA REVOLUSI 4.0

oleh: ANNISA WERIFRAMAYENI, M.I.Kom
Alumni Pascasarjana S2 Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Andalas