Home » Artikel

BUDAYA MINANGKABAU: DI ERA 4.0 ADAT TINGGAL SEREMONI

Selasa, 2020-06-16 | 23:01 WIB | 63 klik
Wahyu Fitri

Wahyu Fitri

Mahasiswa Pascasarjana S2 Ilmu Komunikasi FISIP Unand

Portalsumbar.com - Padang, Budaya Minangkabau ada dan terus berkembang hingga saat ini tentu telah menjadi sebuah bukti bahwa nenek moyang orang Minangkabau dalam memberikan batasan dan pedoman kehidupan tidak berdasarkan kepentingan individu semata atau asal comot saja, melainkan dapat menjadi tuntunan dan pedoman bagi generasi-generasi penerusnya. Sebagaimana pepatah "adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah", yang artinya dalam kehidupan bermasyarakat budaya dan adat Minangkabau selalu beririsan dengan agama, sebagaimana adat menyatakan agama menegaskan, seperti sistem matrilineal yang digunakan ditarik berdasarkan garis ibu artinya perempuan Minangkabau memiliki posisi paling tinggi, hal tersebut dipertegas oleh agama dalam sabda rasulullah yang disebutkan oelh abu hurairah diriwayatkan oleh HR. Muslim : saat seorang pemuda bertanya siapa yang patut dihormati rasulullah menjawab "Ibu", pertanyaan terus berlanjut hingga tiga kali dan jawaban rasulullah tetap " ibu", barulah pertanyaan ke empat rasulullah menjawab "ayah". Hal inilah yang akhirnya menjadikan adat istiadat sebagai nafas kehidupan orang Minangkabau.

Namun, dengan perkembangan ilmu teknologi dan pergeseran waktu atau yang lebih dikenal dengan istilah zaman modern atau era global yang telah memasuki era 4.0 menjadikan adat Minangkabau berinteraksi dengan budaya lain dengan bantuan internet dan media sosial. Adanya persentuhan budaya asing dan budaya Minangkabau ini berpengaruh pada aspek pemahaman dan pengimplementasian adat tersebut. Orang Minangkabau dihadapkan pada banyaknya alternatif sebagai pedoman gaya hidup dan budaya, sehingga mereka diberi kesempatan untuk memilih mana yang akan dipakai dan mana yang tidak akan dipakai.

Sebagaimana pepatah adat minangkabau "jalan dialiah dek rang lalu, cupak dipapek rang manggaleh, adaik dialiah deng rang datang" yang artinya kalau kurang berhati-hati ekonomi dan kebudayaan adat istiadat akan dapat dijajah oleh bangsa asing yang senantiasa berusaha untuk merobah kebudayaan asli kita (budaya Minangkabau). Nyatanya, saat ini petatah tersebut telah menjadi kenyataan, dimana akibat dari kekukarang berhati-hatinya kita sebagai orang Minangkabau, sebagian besar generasi muda Minangkabau tidak lagi menggunakan adat istiadat sebagai tuntunan dalam menjalani kehidupan. Hal ini sebagian besar terlihat pada pesta pernikahann dimana baju adat yang dipakai oleh pengatin Minang dahulu identik dengan baju kuruang dan suntiang dan prosesi yang hikmat serta sakral, saat ini meskipun suntiang masih digunakan namun padu-padanannya tidak lagi dengan baju kuruang melainkan dengan kebaya dan bahkan terlihat transparan ditempat tertentu dengan berdalih fashion modern atau kekinian serta prosesi yang dapat dilakukan dimana saja.

Perkembangan teknologi yang begitu pesat dirasakan oleh orang Minangkabau ini tidak dibarengi dengan pemahaman adat yang kuat dan mendalam khususnya oleh generasi muda Minangkabau. Sehingga fungsi adat yang tadinya sebagai pedoman dan filter menjadi mandul dan impoten dalam memfilter derasnya arus budaya asing yang memuji-memuja materialisme dan hedonisme. Tidak heran jika perkembangan ini mampu menciptakan adat imitasi yang latah dan jauh dari nilai-nilai luhur budaya Minang. Akibat lebih jauhnya adalah termajinalnya budaya Minang di pinggir-kehidupan.

Budaya Minangkabau paling eksis pada tingkat kajian ilmiah, bahan diskusi dan penelitian para ahli. Adat Minang seolah diposisikan sebagai budaya dan peradaban masa lalu yang unik dan patut untuk dikaji secara mendalam. Padahal, dalam realitas kehidupan adat Minang terabaikan dan dianggap sebagai penghambat kemajuan termasuk hanya sebagai seremoni pembuka sebuah kegiatan-kegiatan.

Tidak heran jika adat Minangkabau di era Kontemporer hanya tinggal seremonial belaka sebagai pelengkap peristiwa dan perhelatan saja. Adat hanya dijadikan sebuah komoditas wisata, pembuka event-event, penyambutan para pembesar atau tokoh-tokoh dan bahan pembicaraan di meja-meja diskusi semata. Adat begitu teras saat pejabat daerah maupun pusat yang berkunjung ke wilayah Minangkabau, adat begitu terasa jika pemilihan atau pergantian tokoh atau petinggi-petinggi daerah di kawasan Minangkabau. Namun implementasi adat saat ini hanya dapat dirasakan pada acara pernikahan yang juga sudah tersusupi budaya-budaya luar, sedangkan pada keseharian suasana adat menjadi nyaris tidak terasa lagi kesakralannya.

Dalam keseharian sangat langka ditemui perempuan Minangkabau memakai baju kuruang. Yang ada adalah baju yang memperlihatkan lekuk tubuh dan kemolekan. Kalaupun ada, perempuan tersebut hanya mengkuti peraturan dari para atasan sebagaimana sudah beberapa tahun belakang ini para pejabat di Sumatera Barat sepakat untuk mewajibkan pegawai perempuannya memakai baju basibak (baju Kurung) pada satu hari tertentu dalam satu minggu yang telah disepakati. Adanya kecenderungan malu memakai baju kurung karna dianggap kurang modis dan gaul atau kekinian menjadi penyebab perempuan Minangkabau tidak menggunkannya. Memang sungguh mengenaskan dan memprihatinkan. Keadaan ini juga diperparah oleh sikap sebagian orangtua yang tidak tegas dalam memberikan pemahaman adat istiadat dan agama kepada anak-anaknya. Namun, jangankan memberikan pemahaman orangtua pun tidak terlalu paham tentang adat istiadat dan agamannya. Dilema ini makin kompleks dengan permasalahan generasi muda Minang yang sudah phobia terhadap budayanya sendiri.

Dalam hal ini, peran dari para pemuka agama (Alim Ulama), pemuka masyarakat, cadiak padai dan semua eleman masyarakat sangat penting dalam upaya mengembalikan dan meluruskan perilaku generasi mudanya. Banyak cara yang meskinya bisa dijadikan jalan untuk mengembalikan dan meluruskan generasi muda Minang, agar kembali paham dan tau akan adat istiadatnya. Salah satunya melalui pendidikan di rumah tangga. Orang tua sebagai pemimpin dalam keluarga sudah harus sadar dan paham bahwa pendidikan di rumah sangat menentukan kepribadian anak dalam mengawali dan meluruskan langkah anak-anaknya. Sebab anak mengenal norma-norma, adat istiadat dan budaya nenek moyangnya berawal dari pergaulan dalam sebuah keluarga.(*)

Komentar

Artikel lainnya

Zoom Meeting Minggu, 31-05-2020 00:18 WIB

Zoom Meeting

oleh: M. Reza Kurniawan
Mahasiswa Pascasarjana S2 Ilmu Komunikasi FISIP Unand
KOMUNIKASI PASCA PERSELINGKUHAN SUAMI DALAM HUBUNGAN PERNIKAHAN Minggu, 31-05-2020 00:13 WIB

KOMUNIKASI PASCA PERSELINGKUHAN SUAMI DALAM HUBUNGAN PERNIKAHAN

oleh: M. Reza Kurniawan
Mahasiswa Pascasarjana S2 Ilmu Komunikasi FISIP Unand
Dampak Ekologis Covid-19 Kamis, 30-04-2020 18:18 WIB

Dampak Ekologis Covid-19

oleh: Aulia Asman
(Mahasiswa Pascasarjana Program Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Negeri Padang
Kreatif Bersama Anak Saat Rabu, 22-04-2020 16:08 WIB

Kreatif Bersama Anak Saat "DIRUMAH AJA"

oleh: Elsa Tiwi
Mahasiswi Fisip Ilmu Komunikasi Pascasarjana Unand