Home » Artikel

Dampak Ekologis Covid-19

Kamis, 2020-04-30 | 18:18 WIB | 125 klik
Aulia Asman

Aulia Asman

(Mahasiswa Pascasarjana Program Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Negeri Padang

Portalsumbar.com - VIRUS korona atau Covid-19 melemahkan sendi suatu bangsa dalam banyak hal. Tidak hanya kesehatan, tapi juga multi aspek. Namun, secara ekologis ada sisi lain yang dapat digambarkan dari fenomena pandemi global ini. Beragam penelitian pun muncul dengan hasil yang kian mencengangkan.

Ekologi mempelajari bagaimana makhluk hidup berinteraksi dengan sesama makhluk serta komponen lain dalam sebuah lingkungan. Karena itu, untuk mengkaji dampak ekologis virus korona, maka hubungan antara seluruh organisme dengan lingkungan perlu ditelaah. Selain karakteristik fisiologis dari individu-individu organisme, faktor-faktor yang terkait dengan kebiasaan makan (food habits), pola tingkah laku (behavioral patterns) dan kebutuhan terhadap jenis habitat, tentunya juga harus dimengerti dengan baik.

Pertama, pada aspek lingkungan. Covid-19 menunjukkan pengaruh positif terhadap polusi udara secara global. Saat China menyatakan lockdown karena penyebaran virus corona yang semakin liar, citra satelit menunjukkan tingkat polusi yang menurun drastis di langit Negeri Tirai Bambu itu, (Jos Lelieveld, 2020).

Marshall Burke (2020) juga melakukan beberapa perhitungan baik tentang penurunan polusi udara baru- baru ini di beberapa wilayah di China. Menurutnya polusi udara lebih mengancam dunia dibanding korona. Karena alasan ini dia kemudian mencoba menghitung pengurangan polusi selama dua bulan. Hasilnya, mungkin saja pengurangan polusi ini telah menyelamatkan nyawa 4.000 anak di bawah 5 dan 73.000 orang dewasa di atas 70 di Cina. Itu secara signifikan lebih dari jumlah kematian global saat ini dari virus corona.

Meskipun ini mungkin tampak sedikit mengejutkan, namun itu adalah sesuatu yang telah diketahui untuk waktu yang cukup lama. Awal bulan ini, penelitian menunjukkan polusi udara menghabiskan biaya tiga tahun, dari rata-rata harapan hidup global. Sungguh luar biasa, jumlah kematian dan hilangnya harapan hidup dari polusi udara menyaingi efek dari merokok tembakau dan jauh lebih tinggi daripada penyebab kematian lainnya.

Polusi udara melebihi malaria sebagai penyebab global kematian dini dengan faktor 19. Angka tersebut melebihi kekerasan dengan faktor 16, HIV/AIDS dengan faktor 9, alkohol dengan faktor 45, dan penyalahgunaan narkoba oleh faktor 60. Sehingga dapat disimpulkan bahwa polusi udara benar-benar dapat membunuh (Burke, 2020).

Negara Italia memberlakukan tindakan karantina yang ketat, data satelit di Italia utara kini telah menunjukkan penurunan besar dalam polusi udara. Khususnya penurunan nitrogen dioksida, gas yang sebagian besar dikeluarkan oleh mobil, truk dan beberapa industri. Untuk saat ini, Mohsen (2019) mengaku tidak memiliki studi peer-review yang mengukur dampak kesehatan sejati dari pengurangan emisi. Akan tetapi, mengingat apa yang diketahui tentang bahaya pencemaran udara yang meluas, kemungkinan akan ada manfaat langsung dalam bentuk polusi yang lebih sedikit.

Kedua, pada aspek sosial budaya. Pencapaian pembangunan berkelanjutan ditentukan oleh upaya melestarikan dan memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan ekonomi dan keadilan sosial. Kini itu semua dihadapkan pada tantangan yang tidak pernah terduga sebelumnya.

Jika benar virus ini muncul dari alam atau disebarkan dari sumber hewan, maka patutnya kita bisa berbangga. Semua suku dan adat di Indonesia memiliki kearifan lokal yang ramah lingkungan. Nilai-nilai inilah modal kuat bagi upaya pelestarian lingkungan.

Sebagai contoh, Budaya Bali misalnya, mengajarkan konsep Tri Hita Karana. Kebahagiaan manusia akan tercapai jika terjadi tiga hubungan yang harmonis. Ketiga elemen yang mesti berhubungan tersebut terdiri dari Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan. Parahyangan merupakan unit tempat suci (Pura) yang mencerminkan tentang Ketuhanan. Pawongan berupa unit dalam organisasi masyarakat adat sebagai perwujudan unsur antara sesama manusia. Palemahan berupa unit atau wilayah tertentu sebagai perwujudan unsur alam semesta atau lingkungan.

Begitu pula budaya masyarakat Pulau Timor (NTT) mengenal konsep segitiga kehidupan "Mansian-Muit-Nasi, Na Bua" yang berarti manusia, ternak, dan hutan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan saling memiliki ketergantungan.

Faktanya, banyak terjadi kesenjangan antara nilai budaya tersebut dengan perilaku sehari-hari. Sairin (2009) menjelaskan bahwa budaya perilaku (behaviour culture) telah menjauh dari budaya idealis yang dicita-citakan (expected culture). Efeknya sebagaimana diperingatkan dalam Al Qur'an Surat Ar Rum (Ayat 41) yaitu terjadi kerusakan lingkungan disebabkan karena ulah tangan manusia.

Manusia secara alamiah memiliki empat model budaya lingkungan, yaitu merusak, mengabaikan, memelihara, dan memperbaiki (Tasdiyanto, 2010). Model budaya mengabaikan dan merusak lingkungan hidup lebih cenderung terjadi dalam budaya rasional. Sedangkan budaya memelihara dan memperbaiki lingkungan terjadi dalam budaya tradisional. Perilaku manusia terhadap lingkungan akan direspon sesuai dengan model budayanya.

Umat penting disadarkan dengan sentuhan spiritual bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari bukti keimanan. Pembangunan mesti dilaksanakan secara ramah lingkungan. Semua pihak dan semua sarana penting melek ekologi guna menjamin keberlanjutan pembangunan. Pemimpin mesti berkomitmen mengoptimalkan potensi budaya untuk pelestarian lingkungan sekaligus memitigasi wabah Covid-19.(*).

Komentar

Artikel lainnya

Zoom Meeting Minggu, 31-05-2020 00:18 WIB

Zoom Meeting

oleh: M. Reza Kurniawan
Mahasiswa Pascasarjana S2 Ilmu Komunikasi FISIP Unand
KOMUNIKASI PASCA PERSELINGKUHAN SUAMI DALAM HUBUNGAN PERNIKAHAN Minggu, 31-05-2020 00:13 WIB

KOMUNIKASI PASCA PERSELINGKUHAN SUAMI DALAM HUBUNGAN PERNIKAHAN

oleh: M. Reza Kurniawan
Mahasiswa Pascasarjana S2 Ilmu Komunikasi FISIP Unand
Kreatif Bersama Anak Saat Rabu, 22-04-2020 16:08 WIB

Kreatif Bersama Anak Saat "DIRUMAH AJA"

oleh: Elsa Tiwi
Mahasiswi Fisip Ilmu Komunikasi Pascasarjana Unand
Di Tahun Babi Tanah, Umat Berharap Kebaikan Kepada Dewa Kamis, 07-02-2019 16:40 WIB

Di Tahun Babi Tanah, Umat Berharap Kebaikan Kepada Dewa

oleh: Charlie Ch. Legi
ASN Bagian Humas Pemko Padang