Home » Artikel

Kapolri Tito Karnavian

Kamis, 2017-07-13 | 13:31 WIB | 166 klik
Oleh: Muhammad Ilham Fadli

Oleh: Muhammad Ilham Fadli

Dosen IAIN Imam Bonjol - Padang

"Saya sampaikan kalau boleh saya pilih, saya tidak mau selesai sampai 2022. Terlalu lama. Tidak baik bagi organisasi, tidak baik bagi saya sendiri," kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian beberapa hari lalu. Bagi Tito, jika ada kesempatan untuk pensiun dini, maka ia akan mengambil kesempatan tersebut. Ia bahasakan dengan "ada waktu yang saya anggap tepat, mungkin akan pensiun dini".

Pernyataan Tito yang menjabat Kapolri pada 13 Juli 2016 ini kemudian menjadi headline. Dibahas secara intens dari berbagai sudut pandang. Di hampir seluruh media TV maupun di media cetak negeri ini. Bahkan di kedai-kedai. Satu hari setelah beliau mengeluarkan pernyataan keinginan untuk pensiun dini tersebut, Tito kembali mengatakan keinginannya untuk menjadi peneliti atau guru/dosen. Spesifiknya bagi pengembangan kepolisian. "Dan yang pasti, saya tidak akan berkecimpung di dunia politik", lanjut Tito.

Seorang kawan, pagi tadi mengirimkan SMS kepada saya : "bung, tulisan anda tentang Tito awal Juli satu tahun yang lalu di salah satu media yang memperkirakan Tito sedang dipersiapkan Jokowi untuk jabatan lebih tinggi ke depan, nampaknya salah !" [ inbox : 07.11 WIB ].

Saya kembali mencari-cari tulisan satu tahun yang lalu. Tulisan yang ditanggapi oleh kawan saya itu. Ketemu. Berikut :

_______________________

12 Juli 2016.

Melihat begitu melejitnya karir Komjen. (Pol) Tito Karnavian, bertanyalah seorang kawan, "Bagaimana menurut anda tentang fenomena melejitnya karir Tito Karnavian dalam usia yang relatif muda, dan bagaimana kira-kira kiprahnya ke depan?".

Persoalan ke depan, itu pengetahuan Tuhan. Wallahu a'lam saja lah dulu saya jawab. Namun, kita bisa menduga-duga, termasuk saya. Walaupun dalam ranah politik, kepastian itu selalu berada di "last-minutes". Kita lihat, dalam usia 51 tahun, "wong kito" Tito Karnavian (kelahiran Palembang) ini telah mampu meraih posisi tertinggi di bidangnya, Kapolri (setidaknya jadi calon tunggal dari Presiden dan telah disepakati DPR-RI secara aklamasi). Ia menjadi orang Palembang yang menyusul senior-seniornya sesama orang Palembang memasuki "ring 1" elit politik nasional seperti alm. Taufik Kiemas, Hatta Radjasa, Ryamizard Ryacudu dan Marzuki Ali (mantan Ketua DPR-RI).

Lalu mungkinkah Tito jadi Kapolri selama 7 tahun, sampai beliau pensiun ?. Dalam politik, tidak ada yang tidak mungkin. Walau terasa terlampau lama, semuanya bisa terjadi, dengan catatan, Jokowi tetap jadi Presiden RI pada (kesempatan) periode ke dua. Tapi saya justru memiliki dugaan lain. Tito Karnavian, yang dianggap sebagai tipikal perwira tinggi Polri cerdas ini, hanya akan menjabat sebagai Kapolri selama tiga tahun, lebih kurang.

"Lho ... kok begitu?', tanya kawan ini dengan serius.

Saya yakin, tahun 2019 yang akan datang, Jenderal Tito Karnavian akan masuk sebagai salah satu pilihan / nominasi Jokowi menjadi wakil-nya dalam Pilpres 2019 yang akan datang. Pada tahun ini, usia Jokowi 58 tahun, sedangkan Tito berusia 54 tahun. Secara kalkulatif, bila Tito memiliki prestasi yang mumpuni kala menjabat Kapolri, dugaan dipilihnya Tito sebagai calon Wakil Presiden oleh Jokowi, sangat rasional dan secara kalkulatif-politis, amat menguntungkan bagi Jokowi.

Ini hanya dugaan. Orang bisa saja menganggap ini analisis "demam" atau "asbun". Tapi saya menguhubungkan simpulan/dugaan saya itu dengan begitu kuatnya keinginan Jokowi untuk menjadikan Tito sebagai Kapolri. Kehadiran Tito yang "junior", mendobrak kemapanan pola kaderisasi pucuk pimpinan di tubuh Polri yang mengacu kepada parameter Angkatan (Tamatan Akpol tahun berapa ?). Sejak menjadi Kapolda Papua, Jokowi mulai memperhatikan kiprah Tito. Banyak yang berpendapat, ketika Tito menjadi Kapolda Metro Jaya serta memperoleh bintang dua dalam usia yang muda, semuanya tak terlepas dari "pesan" dan "keinginan" Jokowi. Termasuk ketika Jokowi mengangkatnya menjadi Ketua BNPT dengan bintang tiga dipundak Tito.

Promosi bintang tiga ini hanya butuh beberapa bulan bagi Tito dalam menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya. Dalam bahasa ilmu politik, perjalanan karir ini tidak "kebetulan", tapi pasti ada stimuli politik dan stimuli kepentingan elit politik - terlepas bahwa Tito memang berkualitas. Kehadiran Tito nantinya memberikan investasi politik tersendiri bagi Jokowi tahun 2019. Muda, smart dan dari kalangan "bersenjata". Hal ini akan mereduksi pengaruh personal Prabowo Subianto.

"Diamnya" Megawati terhadap proses pencalonan Tito ini, memberikan pesan bahwa Tito sedang dipersiapkan untuk (nantinya) bisa dikapitalisasi menyelamatkan "suara" PDI-P, kelak. Bagaimanapun juga, suara PDI-P, sangat tergantung dengan kinerja dan pencitraan politik Jokowi periode ini.

Wallahu a'lam.

_______________________

"Lalu bagaimana dengan ucapan pensiun dini Tito beberapa hari yang lalu ?", tanya kawan saya ini kembali [ inbox : 12.40 WIB ]

Politik itu dinamis. Tidakkah kamu ingat bagaimana ucapan SBY ketika ia ditunjuk secara aklamatif untuk menjadi Ketua Umum Partai Demokrat, ketika partai ini sedang dilanda prahara besar ?. SBY yang masih menjabat menjadi Presiden mengatakan (kira-kira), "Saya hanya akan menjabat sementara. Saya tidak mau lagi nantinya dicalonkan lagi menjadi ketua Partai Demokrat ini !". Nyatanya ? ..... sampai sekarang, Ayah AHY ini tetap memimpin partai berlambang logo mercy tersebut.

Maka untuk ucapan Tito tersebut, bisa jadi beliau sedang "mengukur" respon publik. Mengukur dirinya. Sedangkan nyata tidak nyatanya, hanya bisa terlihat di menit-menit terakhir ketika sebuah keputusan politik diambil. Politik itu dinamis. Bila tak dinamis, maka ia kehilangan "ruhnya". Dan jangan anggap Tito Karnavian itu bukan politisi !.

Sampai sekarang, saya masih memegang anggapan saya satu tahun yang lalu. Wallahu a'lam.

Sumber

Komentar

Artikel lainnya

Jalan Manggopoh Sabtu, 29-07-2017 12:41 WIB

Jalan Manggopoh

oleh: Oleh: Muhammad Ilham Fadli
Dosen IAIN Imam Bonjol - Padang
Ustad Syam dan Dakwah Konyol di TV Kamis, 27-07-2017 10:40 WIB

Ustad Syam dan Dakwah Konyol di TV

oleh: Oleh: Hamidulloh Ibda
Pengajar di STAINU Temanggung, editor buku Metode Dakwah Khalifah Abu Bakar Assi
Persepsi Sabtu, 15-07-2017 15:30 WIB

Persepsi

oleh: Oleh: Muhammad Ilham Fadli
Dosen IAIN Imam Bonjol - Padang
Generasi Muzzammil dan Sonia Jumat, 14-07-2017 00:40 WIB

Generasi Muzzammil dan Sonia

oleh: Oleh: Noni Zakiah, M.Farm, Apt
Dosen Farmasi Poltekkes Kemenkes Nanggroe Aceh Darussalam